• Manhaj Salaf

    Manhaj Salaf Manhaj Kebenaran

    Risalah Manhaj Salaf, Sebuah metodologi dalam beragama

  • As Sunnah

    Apa dan bagaimana Sunnah?

    Golongan apa dan siapa Ahli Sunnah

  • Al Jamaah

    Al Jamaah

    Penjelasan Ilmiyyah Al jamaah

  • Risalah Bidah

    Bahayanya Bidah

    Memahami Bidah secara Ilmiyyah dan Tepat

  • Faham Sesat

    Faham Menyimpang

    Studi Ilmiyyah Pemikirn faham dan Ideologi Menyimpang Islam

  • Wahabi

    Wahabi

    Artikel Konferehensif tentang Wahabi dan Dakwah Syekh Abdul Wahab

Tampilkan postingan dengan label ulama-sunny. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ulama-sunny. Tampilkan semua postingan

Keutamaan Ulama dan Larangan Mencelanya

0 komentar
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ



Ulama adalah orang-orang terpilih yang memiliki kapasitas keilmuan yang luar biasa baik dalam Islam. Melalui merekalah bagaimana silsilah ilmu keislaman bisa tersambung dari Nabi SHOLATUALAIHIWASSALAM, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, hingga kepada kita semua yang hidup pada zaman ini. Mencela mereka adalah hal yang tidak diizinkan, sebagaimana sabda Nabi SHOLATUALAIHIWASSALAM:
 “Tidak termasuk umatku orang-orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak seorang ulama” (HR. Ahmad).
 Nabi SHOLATUALAIHIWASSALAM telah menyampaikan kepada kita semua perihal keutamaan ulama:
“Yang dapat memberikan syafa’at pada hari kiamat ada tiga; para Nabi, para ulama, dan para syuhada” (HR. Ibnu Majah).
Ulama telah berjasa besar dalam memberikan kemaslahatan umat ini. Fatwa yang mereka lontarkan bukanlah perkataan sembarangan, namun didasari ilmu yang memadai. Bisa dikatakan bahwa ulama adalah orang yang paling scientific, paling credible, dan paling ilmiah, ini dikarenakan mereka tidak berbicara dengan ra’yu dan hawa nafsu semata. Perkataan mereka berasal dari dua referensi yang pasti benar, Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Para ulama haq adalah orang-orang yang bertanggung jawab atas kemaslahatan umat, sehingga manusia tidak tersesat dalam mengarungi lautan kehidupan. Rasulullah SHOLATUALAIHIWASSALAM bersabda dalam salah satu hadistnya:

”Allah tidak akan mencabut ilmu Islam dengan mencabutnya dari manusia. Sebaliknya Allah mengambilnya dengan cara mewafatkan para ulama sehingga tidak tersisa walaupun seorang. Manusia mengangkat orang bodoh menjadi pemimpin. Apabila mereka ditanya, merekapun berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan” (HR. Bukhari Muslim).
Imam Al Ajurri berkata: ”Bagaimanapun juga, ulama memiliki keutamaan yang sangat besar. Dalam usaha mereka menuntut ilmu, terdapat keutamaan. Ketika mereka bersama dengan para syaikhnya terdapat keutamaan. Ketika mereka mengingatkan satu sama lain, terdapat keutamaan. Dalam diri para ulama yang menjadi guru mereka, terdapat keutamaan. Ketika mereka mengajarkan ilmunya kepada orang-orang yang belajar kepada mereka, terdapat keutamaan. Sungguh, Allah telah mengumpulkan kebaikan kepada para ulama dalam banyak hal. Mudah-mudahan Allah memebri manfaat kepada kita dan mereka dengan ilmu” (Akhlaq Al Ulama, hal. 43-44).
Imam Abul Qasim Ali Ibnu Asakir berkata: ”Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya daging para ulama itu beracun. Permusuhan Allah terhadap orang yang melecehkan kehormatan para ulama juga sudah maklum. Dan, barangsiapa yang menyibukkan lisannya untuk menjelek-jelekkan para ulama, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya sebelum kematiannya dengan kematian hati” (http://www.almeshkat.net/indez.php)
Sheikh Al Utsaimin berkata: ”Barangsiapa yang kesukaannya adalah menjelek-jelekkan ulama dan membuat orang lain lari dari mereka, serta memperingatkan orang agar berhati-hati dengan mereka; maka sesungguhnya yang dia lukai bukan hanya seroang ulama saja, melainkan perbuatannya tersebut telah melukai peninggalan Nabi SHOLATUALAIHIWASSALAM” .
Betapa indahnya perkataan Sheikh Al Utsaimin tersebut. Beliau menyamakan ulama sebagai peninggalan Nabi SHOLATUALAIHIWASSALAM yang berharga yang Insha Allah berperan besar dalam keberlangsungan kebenaran dalam tubuh umat Islam.
Sheikh Bin Baz dikala ia ditanya mengenai kebiasaan sebagian juru dakwah yang gemar mencela ulama, beliau berkomentar:
”Menurut saya ini perbuatan yang diharamkan. Sekiranya seseorang tak dibolehkan  berbuat ghibah terhadap saudaranya sesama mukmin sekalipun dia bukan ulama, bagaimana mungkin seseorang dibolehkan meng-ghibah para ulama kaum mukminin? Allah SWT berfirman: ’Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebiasaan berburuk sangka sejauh mungkin, karena sesungguhnya sebagian dari berburuk sangka adalah dosa. Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, dan jangan pula sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu, kalian tidak menyukainya. Dan takutlah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang.’ Dan hendaknya orang ini tahu akibat dari perbuatan buruknya, bahwasanya apabila dia menjelek-jelekkan seorang ulama, maka hal ini akan menyebabkan semua perkataan haq yang keluar dari ulama tersebut tertolak. Jika demikian, maka bencana penolakan al haq dan dosanya ditanggung oleh oranhg yang suka menjelek-jelekkan ulama ini. Sebab, realitanya, menjelek-jelekkan ulama bukan hanya menjelek-jelekkan pribadi ulama bersangkutan, melainkan hal ini sama saja dengan melecehkan peninggalan Nabi SHOLATUALAIHIWASSALAM.” (Fatawa Al Ulama’ Haula Ad Da’wah wa Al Jama’at Al Islamiyah, hal. 65)
DR. Husamuddin Affanah berkata: ”Tidak diragukan lagi, bahwa memuliakan dan menghormati ulama adalah salah satu perkara yang diwajibkan oleh syari’at, meskipun mereka berbeda pendapat dengan kita. Sebab, ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi telah mewariskan ilmunya kepada mereka. Sehingga, para ulama memiliki kehormatan yang harus kita junjung tinggi.” (http://almeshkat.net/index.php)
Insya Allah, pendapat para ulama di atas yang mana mereka dengan tegas melarang celaan terhadap ulama adalah mendekati kebenaran sesuai apa yang telah disabdakan Nabi SHOLATUALAIHIWASSALAM. Memang disayangkan, kita sering melihat para da’i dan mubaligh yang dengan mudahnya mengklaim bahwa ulama ini dan itu adalah keliru dan salah bahkan menyesatkan. Pendapat seorang ulama itu bisa tertolak apabila menyelisihi syari’at, namun jangan segan untuk menerimanya apabila ternyata selaras dengan Al Qur’an dan Sunnah. Semoga hal ini bisa dijadikan pelajaran yang sangat berharga bagi para thalibul imi agar bisa menjaga lisannya.
Hanya kepada Allah semata kita meminta ampunan bagi kesalahan yang kita perbuat baik itu disadari maupun tak disadari…


والله أعلمُ بالـصـواب


Read more

Haramnya Mencela Ulama dan Meremehkan Mereka

0 komentar

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
 Sesungguhnya mencela ulama’ dan menghina mereka merupakan jalannya orang yang menyimpang dan sesat. Yang demikian itu karena sesungguhnya mencela ulama bukanlah celaan terhadap diri-diri mereka, akan tetapi itu adalah celaan terhadap agama, dakwah yang mereka emban, dan agama yang mereka anut.
Mencela ulama hukumnya haram karena mereka termasuk muslimin, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِى شَهْرِكُمْ هَذَا فِى بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah-darah kalian, harga diri – harga diri kalian, haram atas kalian sebagaimana haramnya hari kalian ini, dalam bulan kalian ini, di negeri kalian ini.” ( Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam Shahihnya 8/198 dan Muslim di dalam Shahihnya 5/108 ).

Dan bertambah keharamannya karena mencela ulama merupakan tangga yang mengantarkan untuk mencela agama. Dan ini adalah yang diinginkan oleh ahlu bid’ah yang mencela pendahulu umat ini dan ulamanya yang mengikuti mereka dengan baik. Jalan dan sebab-sebab yang diukur dengan tujuan dan mengikuti hukum tujuan yang dituju.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Disaat tujuan itu tidaklah tercapai kecuali dengan sebab-sebab dan jalan-jalan yang mengantarkan padanya, jadilah sebab dan jalan tersebut mengikuti hukumnya, dan diukur dengannya. Perantara perkara yang haram dan maksiat terkait dengan dibencinya dan dilarangnya, hal tersebut sesuai dengan kadar besarnya dia bisa mengantarkan pada tujuannya dan sesuai dengan besarnya keterkaitan dengan perkara yang dituju. Perantara perkara ketaatan dan amal baik terkait dengan dicintainya dan dijinkannya sesuai dengan kadarnya dia bisa mengantarakan pada tujuannya. Maka perantara kepada suatu maksud mengikuti hukumnya yang dimaksud. Keduanya sama-sama yang dimaksud hanya saja yang ini dimaksudkan karena dia tujuannya adapun yang satu dimaksudkan sebagai perantara. Jika Allah Ta’ala mengharamkan sesuatu, yang mana perkara tersebut memiliki jalan dan perantara yang mengantarkan padanya, maka sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan perantara tersebut dan melarangnya sebagai wujud pengharamkan perkara tersebut dan pengkukuhan pengharamannya, serta pelarangan dari mendekatinya. Kalau seandainya Allah Ta’ala membolehkan perkara yang mengantarkan pada perkara haram tersebut maka hal itu akan membatalkan pengharaman perkara tersebut, penghasutan terhadap jiwa. Dan hikmah Allah Ta’ala serta ilmu llah Ta’ala jauh dari hal itu sejauh-jauhnya.”. (I’lam Al-Muwaqi’in: 3/147).

Ketika para salaf memahami hal ini maka mereka menghukumi orang yang merendahkan para shahabat adalah orang zindiq dikarenakan akibat yang timbul dari sikap tersebut berupa pelecehan terhadap agama dan penghinaan sunnah pemimpin para rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam-:
Dari Mush’ab bin Abdillah berkata: “Abu Abdillah bin Mush’ab Az-Zubairy mengabarkan padaku: Berkata kepadaku Amirul Mukminin Al-Mahdy: “Wahai Abu Bakr, apa yang kau katakan tentang orang yang merendahakan shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Aku berkata: ” Dia orang zindiq”. Dia berkata: “Aku belum pernah dengar seorangpun berkata demikian sebelummu.” Aku berkata: “Mereka adalah kaum yang ingin merendahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka mereka tidak menemukan seorangpun dari umat ini yang mengikuti mereka dalam hal ini. Maka mereka merendahkan para shahabat di sisi anak-anak mereka, dan mereka di sisi anak-anak mereka, seakan-akan mereka mengatakan: “Rasulullah ditemani oleh para shahabat yang jelek, betapa jelek orang yang ditemani oleh orantg-orang yang jelek”. Maka dia berkata: Tidaklah aku melihat kecuali seperti apa yang engkau katakan.”. (Tarikh Baghdad: 10/174).

Demikian juga dikatakan oleh para ulama salaf tentang orang yang mencela ulama dari kalangan tabi’in dan orang-orang setelah mereka.
Al-Imam Ahmad rahimhullah berkata:

إِذَا رَأَيتَ الرَّجُلَ يَغمِزُ حَمَّادَ بنَ سَلَمَةَ، فَاتَّهِمْهُ عَلَى الإِسْلاَمِ، فَإِنَّهُ كَانَ شَدِيْداً عَلَى المُبْتَدِعَةِ.

“Jika engkau lihat seseorang mencela Hammad bin Salamah maka ragukanlah keislamannya. Sesungguhnya Hammad sangat keras terhadap ahlul bid’ah.” (As-Siyar: 13/499).
Dan Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata:

إذا رأيت الرجل يتكلم في حماد بن سلمة وعكرمة مولى ابن عباس فاتهمه على الإسلام

“Jika engkau lihat seseorang mencela Hammad bin Salamah dan Ikrimah maula Ibnu ‘Abbas maka ragukanlah keislamannya.” ( Syarah Ushul ‘Itiqad 1/514 ).
Sesungguhnya salaf tidak hanya melarang dari mencela ulama, bahkan mereka melarang dari meremehkan ulama.
Al-Imam Ibnul Mubarak rahimahullah berkata:

حقٌّ عَلَى العَاقِلِ أَنْ لاَ يَسْتَخفَّ بِثَلاَثَةٍ:العُلَمَاءِ وَالسَّلاَطِيْنِ وَالإِخْوَانِ، فَإِنَّهُ مَنِ اسْتَخَفَّ بِالعُلَمَاءِ ذَهَبَتْ آخِرَتُهُ، وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالسُّلْطَانِ ذَهَبَتْ دُنيَاهُ، وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالإِخْوَانِ ذَهَبَتْ مُرُوءتُهُ.

“Keharusan bagi seorang yang berakal untuk tidak meremehkan tiga orang: Ulama, Penguasa dan saudara. Siapa yang meremehkan ulama hancurlah akhiratnya, siapa meremehkan penguasa hancurlah dunianya, dan siapa yang meremehkan saudara hilanglah muru’ahnya.” (As-Siyar: 17/251).

والله أعلمُ بالـصـواب
 
Sumber : Makalah Ust. Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah Pada Kajian Umum Ilmiyah Di PP Al-Ukhuwah Sukoharjo


Read more

Mimpi Seorang Wanita yang Membuat Syaikh Al-Albani Menangis (dengan Audio)

0 komentar
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Diceritakan, suatu kali ada seorang wanita dari Aljazair menelepon Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullaah untuk bertanya tentang suatu permasalahan. Setelah itu wanita tersebut ingin menyampaikan sebuah berita.

-- Wanita itu berkata,”Wahai Syaikh, Saya ingin menyampaikan sebuah berita.”

--Syaikh Al-Albani berkata, “Semoga Allah merahmati engkau dengan berita yang baik.”

--Wanita itu berkaya, “Salah seorang saudara wanita kami telah bermimpi dan saya akan menceritakan mimpi itu kepada anda.”

--Syaikh Al-Albani, “Semoga dalam mimpi itu ia mendapatkan kebaikan.”

--Wanita itu berkata, “Wahai Syaikh, apakah dibenarkan ketika ada seseorang yang menceritakan mimpinya kepada anda kemudian anda berkata: ‘Semoga dalam mimpi itu ia mendapatkan kebaikan’ Apakah hal ini ada sunnahnya?”

--Syaikh Al-Albani berkata, “Tidak, hal ini bukan dari sunnah, tapi tidak mengapa mengatakan demikian.”

--Wanita itu berkata, “Semoga Allah memberikan barokah kepada anda.”

--Syaikh Al-Albani menjawab, “Begitu juga denganmu, semoga mendapatkan barokah.”

Kemudian wanita tersebut mulai mengisahkan, “Saudara perempuan ini melihat dirinya di sebuah balkon sedang memandang ke sebuah jalan kecil. Di jalan kecil ini ia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan penggambaran yang dia ketahui. Kemudian ia melihat aku sedang berdiri di depan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan ia melihat Rasulullah tersenyum kepadaku dan aku pun tersenyum kepada beliau. Kemudian aku memanggil dia, ‘Ayo ke sini, gabung dengan kami’.”
Ketika datang dia bertanya, “Siapa yang sedang kamu perhatikan?”
Aku berkata, “Lihatlah orang yang sedang memandang ke sini.” Maka dia pun melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau tersenyum dan berjalan. Kami kemudian berjalan bersama. Ketika itulah kami melihat Syaikh Al-Albani berada di jalan yang sama dengan kami.
Kami pun memberi salam, “Assalamu’alaikum.” Syaikh tersebut kemudian menjawab, “Wa’alaikumussalam wa rahmatullaah wa barakaatuh.”
Kemudian Syaikh tersebut bertanya, “Apakah kalian melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Kami menjawab, “Ya, kami melihatnya.” Saudara perempuanku bertanya “Siapakah Syaikh ini?” Aku menjawab, “Beliau adalah Syaikh Al-Albani.” (akhir dari mimpi)
Kemudian wanita yang tersebut berkata kepada Syaikh Al-Albani, “Aku memohon kepada Allah agar Dia menjadikan mimpi ini sebagai kebaikan bagi anda wahai Syaikh, sehingga saya ingin menyampaikannya. InsyaAllah ini adalah berita baik, bahwa anda adalah seorang ulama yang berjalan di atas jalan Sunnah wahai Syaikh -InsyaAllah- Apa tanggapan anda terhadap berita ini, wahai Syaikh?”
Sampai di sini Syaikh Al-Albani tidak berkata apapun, sebaliknya air mata beliau mulai bercucuran di wajahnya dan beliau rahimahullah pun menangis. Dan meminta orang-orang di sekitar beliau untuk keluar.

Bisa dengarkan audio/ telp klik disini


والله أعلمُ بالـصـواب


Read more

Enam Tahun di Rumah Syaikh Albani rahimahullah

0 komentar
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Berita duka ini sampai kepadaku seusai shalat ashar hari ini dari istri beliau rahimahullah. Dengan serta merta aku menuju rumah sakit tempat beliau dirawat. Disana aku jumpai istri dan putra beliau Abdul Lathif yang menemani beliau selama masa perawatan. Setelah masuk kamar tiba-tiba kusaksikan dihadapanku jasad Syaikh rahimahullah yang telah ditutup dengan selembar kain, dibaringkan diatas sebuah tempat tidur. Air mataku mengalir tidak mampu menahan tangisan atas kepergiannya. Kubuka wajahnya yang bercahaya lalu kucium keningnya. 

Kami mengangkat jasadnya untuk dimuat disebuah mobil milik salah seorang teman, lalu membawanya ke rumah duka. Ikut bersama kami di mobil jenazah, putra beliau Abdul Lathif. Ia sangat sedih dan banyak mengucurkan air mata. Kami menghibur dan menasihatinya untuk bersabar. Ia hanya memandang kami sedang kedua matanya meneteskan air mata yang banyak. Abdul Lathif menceritakan kondisi ayahnya sehari sebelum wafat, ia berkata : “Hingga kemarin dalam kondisi sakitnya yang semakin parah ayah masih sempat berkata :”Berikan kitab shahih sunan Abi Dawud!!”

Aku katakan : “Subhanallah (Maha suci Allah), semoga Allah swt membalas kebaikanmu ya Syaikh. Sungguh engkau telah hidup sepanjang usiamu, siang dan malam, engkau membela Sunnah Rasul saw hingga akhir hidupmu. Dalam kondisi tidak mampu menegakkan punggungmu, aku melihatmu menyuruh putra atau cucu-cucumu menulis, tanpa mengenal sakit dan tidak pula mengeluhkan kesakitanmu. Semua itu tiada lain kecuali anugerah dan keutamaan dari Allah swt yang diberikan kepadamu, maka Dia-lah yang maha pemberi karunia dan keutamaan”.

Sesampainya kami di rumah Syaikh, di sana kami jumpai beberapa teman yang telah mendahului kami dan mulailah para ikhwah berdatangan dari berbagai pelosok kota Amman , tempat Syaikh berdomisili selama lebih dari delapan belas tahun.

Kami bergegas mempersiapkan jenazah Syaikh rahimahullah, memandikan dan mengafaninya. Begitu selesai menyiapkan, kami mengeluarkan dan meletakkannya di sebuah ruangan besar. Seketika rumah Syaikh rahimahullah telah penuh sesak oleh pelayat yang terdiri dari para pecinta dan murid-muridnya. Syaikh Abu Malik mengisyaratkan kepada kami agar wajah Syaikh tidak ditutup sehingga para pelayat melepaskan kepergiannya.

Mereka pun segera mencium kening Syaikh sebagai tanda perpisahan dengannya . lalu jenazah Syaikh disiapkan untuk dishalatkan. Para ikhwan yang bermusyawarah tentang tempat pemakamannya, aku katakan kepada mereka bahwa Syaikh rahimahullah berulang-ulang menyebutkan kehendaknya di depanku, beliau ingin dikuburkan dipemakaman yang terletak pada sisi jalan yang menuju ke rumahnya agar tetap mendapat ucapan “salam” dari saudara-saudara dan pecintanya. Di antara wasiat beliau sebagaimana yang dikatakan oleh putranya Abdul Lathif, agar jenazahnya dibawa dari rumahnya ketempat pemakaman dengan cara dipikul, setelah para pelayat melepaskan kepergian beliau, kami segera keluar dari rumah untuk menshalatkannya.

Demikian sang Imam dan tokoh ini kembali kepada Rabbnya Tabaraka wata`ala dengan meninggalkan warisan ilmu yang bermanfaat, tergores di sela-sela ratusan karya tulisnya yang kemudian Allah mentakdirkannya diterima di seantero dunia bahkan sebagiannya telah diterjemahkan ke beragam bahasa di dunia ini.

Demikian pula beliau telah meninggalkan sejumlah muridnya yang berjalan diatas manhaj salaf yang dianutnya selama hidup beliau. Semoga dengan pertolongan Allah swt merekapun akan berjalan diatasnya hingga datangnya ajal.

Aku mengenal beliau rahimahullah semenjak 23 tahun yang lalu. Usiaku pada saat itu menginjak empat belas tahun.

Sungguh Allah swt telah menganugerahi aku nikmat dan karunia-Nya sejak aku mengenal manhaj salaf dan mencintainya. Tidak pernah kutinggalkan setiap jalan yang menunjukku kepadanya, kecuali kutempuhnya. Aku berkenalan dengan murid-murid syaikh, duduk dan berteman dengan mereka. Aku mulai membeli kitab-kitab syaikh dan kitab yang pertama kubeli adalah “shifat shalat Nabi saw“. Aku selalu menanti kedatangan Syaikh dari negeri Syam sebagaimana biasa untuk menyampaikan kajian-kajian.

Pada tahun 1980, Syaikh berhijrah dari negeri Siria ke Amman (Yordania). Yang kemudian menjadi tempat domisilinya. Beliau memilih tinggal di perkampungan yang sederhana. Ia pernah ditawari sebidang tanah oleh seorang kaya yang terletak di sekitar kota Amman , namun tetap ditolaknya dan bersikeras untuk tetap tinggal di tengah–tengah kaum muslimin yang berekonomi lemah. Kota Amman pun gembira atas kedatangan Syaikh sebagaimana para pecintanya. Selama enam tahun telah kulalui bersama Syaikh di rumahnya, setiap hari selalu kudapati ilmu sebagaimana aku pun telah belajar darinya tentang akhlaq. Maka apakah yang hendak kuceritakan ?

Syaikh rahimahullah adalah seorang yang penuh kasih sayang dan belas kasihan. Sekali waktu pernah beliau katakan padaku: “Hai Muhammad, engkau tidak memiliki kendaraan (mobil), sementara putra-putrimu perlu beristirahat (bertamasya), maka siapkan hari apa saja yang kamu inginkan, kita akan pergi bersama agar kamu bersenang-senang bersama mereka. Dua hari kemudian, kami siapkan apa yang diperlukan, lalu keluar bersama syaikh dan istrinya ke sebuah tempat tamasya di luar kota Amman . Dan beliau membawa makanan serta beraneka buah-buahan sehingga anak-anakku sangat gembira.

Suatu ketika aku pernah bekerja dan memperbaki pada bagian atap rumah Syaikh. Aku mengangkat dan memindahkan sebuah kayu besar, hingga aku merasa keberatan dan hampir terjatuh dari atap rumah, kalau saja bukan karena karunia Allah swt padaku.

Mendengar peristiwa itu, Syaikh segera memuji Allah swt atas keselamatanku dan langsung menyungkur bersujud kepada Allah swt mensyukuri-Nya, sedang kedua matanya mengucurkan air mata, menangisi kejadian ini. Lalu dikeluarkan dari sakunya sebanyak seratus dinar dan diberikannya kepadaku.

Syaikh رحمه الله adalah seorang yang berperangai wara` yaitu selalu menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak bermanfaat dan syubhat. Pernah suatu ketika beliau menjadi penengah bagi seorang yang ingin bekerja di salah satu perusahaan persero. Selang beberapa hari, orang tersebut mengetuk pintu rumah beliau sambil membawa sejumlah buah zaitun dan menuturkan kepadaku : “Ini adalah hadiah untuk Syaikh“, pada waktu itu Syaikh sedang tidur.

Setelah bangun dari tidurnya kusampaikan amanat orang itu. Dengan serta merta Syaikh bertutur: “Tidak halal bagi kita untuk memakannya, karena telah disabdakan oleh Rasulullah saw” (yang artinya) :

“Barang siapa yang menolong seseorang dengan suatu pertolongan, lalu diberikan kepadanya hadiah dan diterimanya, berarti dia telah mendatangi salah satu pintu riba”.
Maka kami segera membagi-bagikannya kepada para fuqara`.

Kedermawanan Syaikh Al-Albani rahimahullah

Sering kali aku anjurkan Syaikh untuk membangun masjid, atau memberi kepada seorang fakir atau para janda atau seorang peminta-minta, dan tidak pernah beliau menolak. Banyak cerita dalam masalah ini di antaranya : “Pernah datang kepada beliau seorang penderita sakit yang pengobatannya dengan menggunakan suntikan. Ia harus disuntik sebanyak 15 kali dengan biaya setiap suntikan 20 dinar. Syaikh menyuruh aku untuk meneliti kebenaran dakwaannya. Setelah mengetahui kebenarannya, beliau memberi kepadaku biaya yang dibutuhkan lalu kubelikan suntikan tersebut”.

Ketika hendak membangun rumahku aku memerlukan dana, maka kudatangi beberapa rumah dan mengetuk pintu-pintu mereka (untuk meminta pinjaman, pent) namun hasilnya nihil. Aku teringat seorang yang cukup mampu, dia dikenal oleh Syaikh. Maka kukatakan kepada istrinya: “ Tolong sampaikan kepada Syaikh jika beliau berkenan menjadi perantaraku agar orang itu memberiku pinjaman. Keesokan harinya ketika aku sedang duduk dikantorku. Syaikh berkata : “Ya Muhammad! engkau menghendaki agar aku menjadi penengahmu terhadap si fulan agar dia memberimu pinjaman?”. Aku bertukas : “benar”. Lalu kata Syaikh rahimahullah : “Aku lebih utama terhadapmu dari pada orang itu, aku berikan kepadamu seberapa yang kamu perlukan”. Aku pun menangis lalu kukatakan padanya: “Ya Syaikh kami, semoga Allah swt membalas kebaikanmu”. Demi Allah swt tidak pernah terdetik dalam hatiku bahwa apa yang kucari akan kudapati dari Syaikh karena aku tidak pernah melihat apa yang ada padanya. Ketika dana pinjaman itu diberikan padaku beliau berkata: “Yang seribu dinar ini sebagai hadiah untukmu, tidak terhitung sebagai pinjaman. Aku pun menangis untuk kedua kalinya, semoga Allah swt membalasnya rahimahullah.

Kisah yang lain:

Belum lama ini ketika beliau berada di rumah sakit, datang seorang wanita mengadu padanya tentang terjeratnya dalam cengkraman bunga bank. Karena ia mengambil pinjaman dari salah satu bank sebanyak 9000 dinar, dan bunganya telah melipatgandakan hutang tersebut. Ia datang kepada Syaikh, untuk meminta bantuan agar terlepas darinya. Sebagaimana kebiasaannya, Syaikh meminta kepadaku untuk meneliti kasus ini. Setelah diteliti dengan seksama kebenarannya, beliau menyetujui untuk meminjamkannya dana sebesar 7000 dinar. Wanita itu datang bersama putra-putranya. Lalu Syaikh berkata : “Yang seribu dinar sebagai hadiah dan yang selebihnya sebagai pinjaman yang dibutuhkan”. Alangkah girangnya wanita itu dan anak-anaknya. Mereka mendo`akan Syaikh rahimahullah, demikian pula aku ikut mendo`akannya “semoga Allah swt membalas kebaikanmu ya Syaikh”.

Kemudian Syaikh memandang kami seraya berkata:

“Yaa ikwan wallaahi inni atamanna an ashbaha milyuuniiran, hatta ukhrijaaluluufa min amstali hadzihi almar’a min kuyuudi arriba”
“Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, aku berangan-angan menjadi seorang “milyuner” hingga dapat melepaskan ribuan muslim yang senasib dengan wanita ini dari jeratan riba” .

Kelembutan Dan Belas Kasihan Syaikh rahimahullah

Pernah suatu ketika istriku hampir melahirkan. Sementara Syaikh selalu bertanya tentangnya. Sehari sebelum istriku melahirkan bayinya, tatkala aku akan meninggalkan perpustakaan, beliau berkata kepadaku: ”Silahkan ambil mobil ummul Fadhl [1] karena mungkin kamu memerlukannya di tengah malam. Mobil itu kubawa selama dua hari dan ternyata benar, saat melahirkan tiba ditengah malam. Aku keluar dari rumahku, aku tidak tahu hendak pergi kemana?? setelah berupaya mencari seorang bidan dan tidak kutemukan, terfikir olehku bahwa istri Syaikh rahimahullah memiliki pengalaman dalam hal kelahiran. Aku segera menuju ke rumah beliau, sedang aku dirundung keragu-raguan karena khawatir akan mengganggu dan mengejutkannya di saat-saat seperti ini. Aku mengetuk pintu rumahnya, beliaupun menjawabku, lalu kusampaikan kepadanya permohonan maafku yang sebesar-besarnya dan memberitahukan keperluanku. Beliau menjawabku sambil bercanda : “Mengapa kamu tidak lakukan seperti Syaikhmu? sungguh aku telah membantu sendiri istriku ketika melahirkan”. Lalu beliau melanjukkan dengan mengucapkan: “sebentar !!! aku akan membangunkan Ummu Fadhl, dia akan pergi bersamaku”. Lalu kami pun diberi oleh Allah swt seorang putra bernama Abdullah.

Mobil Syikh Al-Albani

Adapun mobil beliau ibarat sekor unta yang selalu mengantar teman-teman kami. Beliau mengangkut mereka dan membawanya dari suatu tempat ke tempat yang lain. Beliau katakan padaku : “Ya Muhammad, ayahku rahimahullah pernah berkata :

likulli syaiin zakaatun, wazakaatus sayaarati : hamlunnaasi biha
“setiap sesuatu ada zakatnya, dan zakat mobil adalah mengangkut orang”
Mutiara Hikmah Syaikh Al Albani rahimahullah
Itmaamul ma’ruf khairun minal bad i bihi
“Menyempurnakan suatu yang ma`ruf lebih baik dari pada memulainya”.
Ini adalah mutiara hikmah yang kami ambil dari beliau, dan alangkah indahnya hikmah ini.

Syaikh Al-Albani seorang yang selalu memenuhi kebutuhan saudara-saudaranya, sehingga seorang merasa cukup dengan sesuatu dari bantuan beliau. Syaikh merasa senang dan selalu bertekad untuk menyempurnakan bantuannya. Namun orang yang dibantu segera berkata : “Menyempurnakan sesuatu yang ma’ruf lebih baik dari memulainya”.

Banyak ilmu yang kami dapat dari mutiara hikmah ini dalam bermu`amalah dengan saudara-saudara kami.
Inilah hal penting yang dapat kusajikan untuk para pembaca dari sela-sela kehidupanku bersama beliau selam 6 tahun. Bisa jadi musibah kematian Syaikh membuatku lupa akan banyak hal.

Saya yakin bahwasanya banyak peristiwa dan sikap-sikap Syaikh yang wajib kucatat sebagai sebuah catatan bersejarah untuk memenuhi hak-hak Syaikh rahimahullah .
Semoga Allah swt merahmatimu wahai Syaikh kami, dengan rahmat yang luas.

Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun
“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali”

Ditulis Oleh: Abu Abdurrahman Muhammad Al Khatib

[1] Ummul fadhl adalah istri Al-Albani yang keempat.
Maraji’:
Majalah al-Ashalah 23 hal: 55-58.
والله أعلمُ بالـصـواب


Read more