• Manhaj Salaf

    Manhaj Salaf Manhaj Kebenaran

    Risalah Manhaj Salaf, Sebuah metodologi dalam beragama

  • As Sunnah

    Apa dan bagaimana Sunnah?

    Golongan apa dan siapa Ahli Sunnah

  • Al Jamaah

    Al Jamaah

    Penjelasan Ilmiyyah Al jamaah

  • Risalah Bidah

    Bahayanya Bidah

    Memahami Bidah secara Ilmiyyah dan Tepat

  • Faham Sesat

    Faham Menyimpang

    Studi Ilmiyyah Pemikirn faham dan Ideologi Menyimpang Islam

  • Wahabi

    Wahabi

    Artikel Konferehensif tentang Wahabi dan Dakwah Syekh Abdul Wahab

Tampilkan postingan dengan label wahabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wahabi. Tampilkan semua postingan

Apa dan siapa WAHABY?

0 komentar

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Pertanyaan yang amat singkat di atas membutuhkan jawaban yang cukup panjang, jawaban tersebut akan tersimpul dalam beberapa poin berikut ini:
  • Keadaan yang melatar belakangi munculnya tuduhan wahabi.
  • Kepada siapa ditujukan tuduhan wahabi tersebut diarahkan?.
  • Pokok-pokok landasan dakwah yang dicap sebagai wahabi.
  • Bukti kebohongan tuduhan wahabi terhadap dakwah Ahlussunnah Wal Jama’ah.
  • Ringkasan dan penutup.
Keadaan yang Melatar Belakangi Munculnya Tuduhan Wahabi
Para hadirin yang kami hormati, dengan melihat gambaran sekilas tentang keadaan Jazirah Arab serta negeri sekitarnya, kita akan tahu sebab munculnya tuduhan tersebut, sekaligus kita akan mengerti apa yang melatarbelakanginya. Yang ingin kita tinjau di sini adalah dari aspek politik dan keagamaan secara umum, aspek aqidah secara khusus.

Dari segi aspek politik Jazirah Arab berada di bawah kekuasaan yang terpecah-pecah, terlebih khusus daerah Nejd, perebutan kekuasaan selalu terjadi di sepanjang waktu, sehingga hal tersebut sangat berdampak negatif untuk kemajuan ekonomi dan pendidikan agama.
Para penguasa hidup dengan memungut upeti dari rakyat jelata, jadi mereka sangat marah bila ada kekuatan atau dakwah yang dapat akan menggoyang kekuasaan mereka, begitu pula dari kalangan para tokoh adat dan agama yang biasa memungut iuran dari pengikut mereka, akan kehilangan objek jika pengikut mereka mengerti tentang aqidah dan agama dengan benar, dari sini mereka sangat hati-hati bila ada seseorang yang mencoba memberi pengertian kepada umat tentang aqidah atau agama yang benar.

Dari segi aspek agama, pada abad (12 H / 17 M) keadaan beragama umat Islam sudah sangat jauh menyimpang dari kemurnian Islam itu sendiri, terutama dalam aspek aqidah, banyak sekali di sana sini praktek-praktek syirik atau bid’ah, para ulama yang ada bukan berarti tidak mengingkari hal tersebut, tapi usaha mereka hanya sebatas lingkungan mereka saja dan tidak berpengaruh secara luas, atau hilang ditelan oleh arus gelombang yang begitu kuat dari pihak yang menentang karena jumlah mereka yang begitu banyak di samping pengaruh kuat dari tokoh-tokoh masyarakat yang mendukung praktek-praktek syirik dan bid’ah tersebut demi kelanggengan pengaruh mereka atau karena mencari kepentingan duniawi di belakang itu, sebagaimana keadaan seperti ini masih kita saksikan di tengah-tengah sebagian umat Islam, barangkali negara kita masih dalam proses ini, di mana aliran-aliran sesat dijadikan segi batu loncatan untuk mencapai pengaruh politik.

Pada saat itu di Nejd sebagai tempat kelahiran sang pengibar bendera tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sangat menonjol hal tersebut. Disebutkan oleh penulis sejarah dan penulis biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, bahwa di masa itu pengaruh keagamaan melemah di dalam tubuh kaum muslimin sehingga tersebarlah berbagai bentuk maksiat, khurafat, syirik, bid’ah, dan sebagainya. Karena ilmu agama mulai minim di kalangan kebanyakan kaum muslimin, sehingga praktek-praktek syirik terjadi di sana sini seperti meminta ke kuburan wali-wali, atau meminta ke batu-batu dan pepohonan dengan memberikan sesajian, atau mempercayai dukun, tukang tenung dan peramal. Salah satu daerah di Nejd, namanya kampung Jubailiyah di situ terdapat kuburan sahabat Zaid bin Khaththab (saudara Umar bin Khaththab) yang syahid dalam perperangan melawan Musailamah Al Kadzab, manusia berbondong-bondong ke sana untuk meminta berkah, untuk meminta berbagai hajat, begitu pula di kampung ‘Uyainah terdapat pula sebuah pohon yang diagungkan, para manusia juga mencari berkah ke situ, termasuk para kaum wanita yang belum juga mendapatkan pasangan hidup meminta ke sana.

Adapun daerah Hijaz (Mekkah dan Madinah) sekalipun tersebarnya ilmu dikarenakan keberadaan dua kota suci yang selalu dikunjungi oleh para ulama dan penuntut ilmu. Di sini tersebar kebiasaan suka bersumpah dengan selain Allah, menembok serta membangun kubah-kubah di atas kuburan serta berdoa di sana untuk mendapatkan kebaikan atau untuk menolak mara bahaya dsb (lihat pembahasan ini dalam kitab Raudhatul Afkar karangan Ibnu Qhanim). Begitu pula halnya dengan negeri-negeri sekitar hijaz, apalagi negeri yang jauh dari dua kota suci tersebut, ditambah lagi kurangnya ulama, tentu akan lebih memprihatinkan lagi dari apa yang terjadi di Jazirah Arab.
Hal ini disebut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitabnya al-Qawa’id Arba’: “Sesungguhnya kesyirikan pada zaman kita sekarang melebihi kesyirikan umat yang lalu, kesyirikan umat yang lalu hanya pada waktu senang saja, akan tetapi mereka ikhlas pada saat menghadapi bahaya, sedangkan kesyirikan pada zaman kita senantiasa pada setiap waktu, baik di saat aman apalagi saat mendapat bahaya.” Dalilnya firman Allah:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan agama padanya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, seketika mereka kembali berbuat syirik.” (QS. al-Ankabut: 65)

Dalam ayat ini Allah terangkan bahwa mereka ketika berada dalam ancaman bencana yaitu tenggelam dalam lautan, mereka berdoa hanya semata kepada Allah dan melupakan berhala atau sesembahan mereka baik dari orang sholeh, batu dan pepohonan, namun saat mereka telah selamat sampai di daratan mereka kembali berbuat syirik. Tetapi pada zaman sekarang orang melakukan syirik dalam setiap saat.
Dalam keadaan seperti di atas Allah membuka sebab untuk kembalinya kaum muslimin kepada Agama yang benar, bersih dari kesyirikan dan bid’ah.
Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Rasulullah dalam sabdanya:
 
« إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا »

“Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini pada setiap penghujung seratus tahun orang yang memperbaharui untuk umat ini agamanya.” (HR. Abu Daud no. 4291, Al Hakim no. 8592)

Pada abad (12 H / 17 M) lahirlah seorang pembaharu di negeri Nejd, yaitu: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Dari Kabilah Bani Tamim.
Yang pernah mendapat pujian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau: “Bahwa mereka (yaitu Bani Tamim) adalah umatku yang terkuat dalam menentang Dajjal.” (HR. Bukhari no. 2405, Muslim no. 2525)
tepatnya tahun 1115 H di ‘Uyainah di salah satu perkampungan daerah Riyadh. Beliau lahir dalam lingkungan keluarga ulama, kakek dan bapak beliau merupakan ulama yang terkemuka di negeri Nejd, belum berumur sepuluh tahun beliau telah hafal al-Qur’an, ia memulai pertualangan ilmunya dari ayah kandungnya dan pamannya, dengan modal kecerdasan dan ditopang oleh semangat yang tinggi beliau berpetualang ke berbagai daerah tetangga untuk menuntut ilmu seperti daerah Basrah dan Hijaz, sebagaimana lazimnya kebiasaan para ulama dahulu yang mana mereka membekali diri mereka dengan ilmu yang matang sebelum turun ke medan dakwah.

Hal ini juga disebut oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitabnya Ushul Tsalatsah: “Ketahuilah semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya wajib atas kita untuk mengenal empat masalah; pertama Ilmu yaitu mengenal Allah, mengenal nabinya, mengenal agama Islam dengan dalil-dalil”. Kemudian beliau sebutkan dalil tentang pentingnya ilmu sebelum beramal dan berdakwah, beliau sebutkan ungkapan Imam Bukhari: “Bab berilmu sebelum berbicara dan beramal, dalilnya firman Allah yang berbunyi:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Ketahuilah sesungguhnya tiada yang berhak disembah kecuali Allah dan minta ampunlah atas dosamu.” Maka dalam ayat ini Allah memulai dengan perintah ilmu sebelum berbicara dan beramal”.

Setelah beliau kembali dari pertualangan ilmu, beliau mulai berdakwah di kampung Huraimilak di mana ayah kandung beliau menjadi Qadhi (hakim). Selain berdakwah, beliau tetap menimba ilmu dari ayah beliau sendiri, setelah ayah beliau meninggal tahun 1153, beliau semakin gencar mendakwahkan tauhid, ternyata kondisi dan situasi di Huraimilak kurang menguntungkan untuk dakwah, selanjut beliau berpindah ke ‘Uyainah, ternyata penguasa ‘Uyainah saat itu memberikan dukungan dan bantuan untuk dakwah yang beliau bawa, namun akhirnya penguasa ‘Uyainah mendapat tekanan dari berbagai pihak, akhirnya beliau berpindah lagi dari ‘Uyainah ke Dir’iyah, ternyata masyarakat Dir’iyah telah banyak mendengar tentang dakwah beliau melalui murid-murid beliau, termasuk sebagian di antara murid beliau keluarga penguasa Dir’iyah, akhirnya timbul inisiatif dari sebagian dari murid beliau untuk memberi tahu pemimpin Dir’yah tentang kedatangan beliau, maka dengan rendah hati Muhammad bin Saud sebagai pemimpin Dir’iyah waktu itu mendatangi tempat di mana Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menumpang, maka di situ terjalinlah perjanjian yang penuh berkah bahwa di antara keduanya berjanji akan bekerja sama dalam menegakkan agama Allah. Dengan mendengar adanya perjanjian tersebut mulailah musuh-musuh Aqidah kebakaran jenggot, sehingga mereka berusaha dengan berbagai dalih untuk menjatuhkan kekuasaan Muhammad bin Saud, dan menyiksa orang-orang yang pro terhadap dakwah tauhid.

Kepada Siapa Dituduhkan Gelar Wahabi Tersebut
Karena hari demi hari dakwah tauhid semakin tersebar mereka para musuh dakwah tidak mampu lagi untuk melawan dengan kekuatan, maka mereka berpindah arah dengan memfitnah dan menyebarkan isu-isu bohong supaya mendapat dukungan dari pihak lain untuk menghambat laju dakwah tauhid tersebut. Diantar fitnah yang tersebar adalah sebutan wahabi untuk orang yang mengajak kepada tauhid. Sebagaimana lazimnya setiap penyeru kepada kebenaran pasti akan menghadapi berbagai tantangan dan onak duri dalam menelapaki perjalanan dakwah.
Sebagaimana telah dijelaskan pula oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitab beliau Kasyfus Syubuhaat: “Ketahuilah olehmu, bahwa sesungguhnya di antara hikmah Allah subhaanahu wa ta’ala, tidak diutus seorang nabi pun dengan tauhid ini, melainkan Allah menjadikan baginya musuh-musuh, sebagaimana firman Allah:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

“Demikianlah Kami jadikan bagi setiap Nabi itu musuh (yaitu) setan dari jenis manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada bagian yang lain perkataan indah sebagai tipuan.” (QS. al-An-‘am: 112)

Bila kita membaca sejarah para nabi tidak seorang pun di antara mereka yang tidak menghadapi tantangan dari kaumnya, bahkan di antara mereka ada yang dibunuh, termasuk Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam diusir dari tanah kelahirannya, beliau dituduh sebagai orang gila, sebagai tukang sihir dan penyair, begitu pula pera ulama yang mengajak kepada ajarannya dalam sepanjang masa. Ada yang dibunuh, dipenjarakan, disiksa, dan sebagainya. Atau dituduh dengan tuduhan yang bukan-bukan untuk memojokkan mereka di hadapan manusia, supaya orang lari dari kebenaran yang mereka serukan.

Hal ini pula yang dihadapi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, sebagaimana yang beliau ungkapkan dalam lanjutan surat beliau kepada penduduk Qashim: “Kemudian tidak tersembunyi lagi atas kalian, saya mendengar bahwa surat Sulaiman bin Suhaim (seorang penentang dakwah tauhid) telah sampai kepada kalian, lalu sebagian di antara kalian ada yang percaya terhadap tuduhan-tuduhan bohong yang ia tulis, yang mana saya sendiri tidak pernah mengucapkannya, bahkan tidak pernah terlintas dalam ingatanku, seperti tuduhannya:
  • Bahwa saya mengingkari kitab-kitab mazhab yang empat.
  • Bahwa saya mengatakan bahwa manusia semenjak enam ratus tahun lalu sudah tidak lagi memiliki ilmu.
  • Bahwa saya mengaku sebagai mujtahid.
  • Bahwa saya mengatakan bahwa perbedaan pendapat antara ulama adalah bencana.
  • Bahwa saya mengkafirkan orang yang bertawassul dengan orang-orang saleh (yang masih hidup -ed).
  • Bahwa saya pernah berkata; jika saya mampu saya akan runtuhkan kubah yang ada di atas kuburan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Bahwa saya pernah berkata, jika saya mampu saya akan ganti pancuran ka’bah dengan pancuran kayu.
  • Bahwa saya mengharamkan ziarah kubur.
  • Bahwa saya mengkafirkan orang bersumpah dengan selain Allah.
  • Jawaban saya untuk tuduhan-tuduhan ini adalah: sesungguhnya ini semua adalah suatu kebohongan yang nyata. Lalu beliau tutup dengan firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman jika orang fasik datang kepada kamu membawa sebuah berita maka telitilah, agar kalian tidak mencela suatu kaum dengan kebodohan.” (QS. al-Hujuraat: 6)

(baca jawaban untuk berbagai tuduhan di atas dalam kitab-kitab berikut, 1. Mas’ud an-Nadawy, Muhammad bin Abdul Wahab Muslih Mazlum, 2. Abdul Aziz Abdul Lathif, Da’awy Munaawi-iin li Dakwah Muhammad bin Abdil Wahab, 3. Sholeh Fauzan, Min A’laam Al Mujaddidiin, dan kitab lainnya)
-bersambung insya Allah-
*) Penulis adalah Rektor Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafii,  Jember, Jawa Timur
***
Disampaikan dalam tabligh Akbar 21 Juli 2005 di kota Jeddah, Saudi Arabia
Oleh: Ustadz DR. Ali Musri SP *

والله أعلمُ بالـصـواب

Sumber: https://muslim.or.id/10-apa-itu-wahabi-1.html


Read more

Potret Negeri yang dituduh sebagai negeri Wahabi

1 komentar


 Mencermati Indahnya Kehidupan Masyarakat di Negeri Wahabi (Negeri yang menerapkan syariat Islam)

1.      Dalam Hal Pendidikan

Kerajaan Saudi Arabia memisahkan antara sekolah laki-laki dan wanita sejak tingkat (SD). Yang demikian supaya anak-anak terbiasa dengan adab Islam dalam bergaul dengan lawan jenis. Siswi, sejak SD tidak dibolehkan memakai rok pendek. Siswi, dari kelas 1 sampai 3 SD masih diberi kelonggaran oleh sekolah dan keluarga untuk tidak memakai kerudung. Tetapi kalau sudah sampai kelas 4 dan kelihatan sudah besar dan bisa menimbulkan godaan maka sudah dibiasakan memakai kerudung ketika ke sekolah, meski pada asalnya tidak wajib sampai dia baligh. Berbeda jika Siswi sudah memasuki bangku setingkat SMP, ia sudah diwajibkan memakai cadar ketika sekolah. Siswi diajar guru wanita, sedangkan siswa diajar oleh guru laki-laki. Murid-murid dari TK dan SD sudah dibiasakan membaca dzikir pagi yang disyari’atkan ketika awal belajar.

Kurikulum sekolah di Saudi Arabia juga penuh dengan nuansa Islami. Hafalan al-Qur’an merupakan muatan tetap dari sejak TK sampai kuliah. Anak yang lulus SD minimal telah menghafal 2 juz dari belakang (juz 29 dan juz 30).
Pelajaran agama dipisahkan dari hafalan al-Qur’an. Anak-anak sejak TK sudah diajarkan tiga landasan utama, yaitu: mengenal Allah, mengenal Nabi Shallallahu alaihi wasallam, mengenal agama, tiga pertanyaan yang kelak kita ditanya tentangnya.

Pelajaran lainnya, seperti IPA, IPS, Matematika dan lain-lain tidak jarang materinya dikaitkan dengan agama. Misalnya, bagaimana mengenal Allah dengan melihat kekuasaannya di alam semesta, yang menunjukkan bahwa ilmu-ilmu tersebut tidak bertentangan dengan agama. Di saudi terdapat sekolah SD yang memiliki prioritas al-Qur’an lebih daripada SD lainnya. Menerapkan jam hafalan lebih banyak. Dan SD seperti ini menjadi rebutan banyak orang. Setiap tahunnya, murid-murid SD ini mendapat beasiswa dari kerajaan.

2.      Kesehatan

Di Saudi Arabia antara pasien laki-laki dan wanita dipisahkan. Demikian juga dokter laki-laki untuk laki-laki dan dokter wanita untuk wanita kecuali dalam beberapa keadaan darurat, atau keterbatasan tenaga medis. Sering ditemui saat menunggu pasien, para dokter di kamar-kamar praktek mereka membaca al-Qur’an. Komputer mereka terisi dengan murattal. Semuanya itu untuk memanfaatkan waktu supaya tidak terbuang sia-sia.

 Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِیْھِمَا كَثِیْرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

 Dan nikmat yang manusia banyak terlena di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.
 [HR. Al-Bukhari].

Ada di antara dokter-dokter itu yang hafal al-Qur’an bahkan memiliki sanad al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain. Pagi bekerja sebagai dokter dan sore hari mengajar al-Qur’an di masjid. Tidak jarang mereka menasehati pasien untuk bertawakkal kepada Allah Azza w a Jalla dan tidak bertawakkal kepada dokter atau obat. Mereka memahami bahwa dokter dan obat hanya sebab dan Allah Azza wa Jalla yang memberikan kesembuhan. Apabila kedatangan pasien anak kecil, terkadang anak-anak itu ditanya tentang hafalan al-Qur’annya sudah sampai mana.

Para dokter wanita memakai cadar adalah sesuatu yang biasa. Demikian pula dokter berjenggot tebal. Ketika shalat mereka menunaikan shalat berjama’ah kecuali dalam keadaan darurat yang mengharuskan keberadaannya bersama pasien.

3.      Sosial

Orang-orang kaya di Saudi Arabia menyadari jika di dalam harta mereka terdapat hak orang lain. Banyak yayasan sosial yang berdiri untuk menjadi jembatan antara orang kaya dengan orang miskin dan yang membutuhkan, seperti pembagian zakat harta, sembako, alat-alat dan perkakas rumah tangga.

 Orang-orang miskin dan membutuhkan yang mendaftar dan terpenuhi syarat-syaratnya akan mendapatkan kesempatan menerima bantuan. Banyak diantara orang-orang kaya tersebut yang mewaqafkan bangunan untuk tempat tinggal, mewaqafkan masjid, dan lain-lain. Mereka berlomba menginfakkan hartanya di jalan Allah.

 Allah Azza w a Jalla berfirman:

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui."
 [al-Baqarah 2:261].

 Ketika Ramadhan (bulan puasa) tiba semakin terlihat kedermawanan mereka. Mulia dari berbuka puasa, membebaskan orang yang dipenjara karena terlilit hutang, membagikan pakaian untuk lebaran, shadaqah, dan lain-lain. Oleh karena itu, orang-orang miskin di Saudi tidak iri dengan orang-orang kaya. Dan orang kaya pun tidak menghina si miskin. Masing-masing melaksanakan kewajibannya.

 Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma berkata:

 كَانَ رَسُوْلُ للهِ صلى لله علیه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُوْنُ فِي رَمَضَانَ حِیْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ

Dahulu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau sangat dermawan ketika Ramadhan saat ditemui Jibril.
 [Muttafaqun ‘alaih].

4.      Keamanan

Hal yang sangat dirasakan di Negara Saudi Arabia ini adalah nikmat keamanan. Seseorang tidak takut melakukan perjalanan jauh sekeluarga pada malam hari kecuali kepada Allah Azza wa Jalla. Terminal-terminalnya jangan dibayangkan seperti di negara yang lain, yang sering terjadi tindak kriminal. Mobil-mobil pribadi di Saudi tidak perlu disimpan rapat-rapat di garasi. Pada malam hari barang-barang dagangan milik pedagang kaki lima di sekitar Masjid Nabawi dibiarkan tergeletak saja di luar dengan ditutup kain sampai pagi tanpa ada yang mengambilnya. Karena Masyarakat di Saudi ditanamkan rasa takut terhadap hari pembalasan, yang sedikit banyak mempengaruhi perilaku mereka sehari-hari.

5.      Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Sepengetahuan penulis, Negara Saudi Arabia adalah satu-satunya negara yang memiliki polisi agama resmi yang tergabung dalam Haiah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Kedudukan mereka sejajar dengan polisi lain, dan berada di bawah Kementrian Dalam Negeri.

Haiah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar ini jangan disamakan dengan ormas yang ada di negara kita (Indonesia), karena Haiah di Saudi Arabia adalah bagian dari aparat negara. Mereka berstatus pegawai negeri, dan diberi kewenangan yang terbatas. Mereka tidak berseragam seperti angkatan lain, tetapi mereka lebih disegani daripada polisi keamanan.

Tugas polisi agama ini memberantas kemungkaran, baik dalam bidang aqidah, seperti pemberantasan tukang sihir, dukun dan lain-lain, maupun dalam bidang akhlak, seperti pemberantasan pacaran, minuman keras dan sebagainya. Disamping itu juga menerbitkan penegakan syiar-syiar Islam, seperti shalat berjamaah. Mereka melakukan patroli menjelang shalat untuk mengajak manusia mendirikan shalat berjamaah dan menghentikan kegiatan lain, seperti berdagang di toko-toko, pasar-pasar, pom bensin ataupun tempat lainnya. Begitu pula tempat tempat atau acara-acara yang diperkirakan digunakan untuk bermaksiat akan dikirim pasukan dari pihak Haiah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, dan bagi warga yang melanggarnya akan dikenakan denda. Inilah yang membuat kokoh negara minyak ini.

Allah Subhanahu w a Ta'ala berfirman:

 وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَیْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْھَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَٰئِكَ ھُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada diantara kalian yang mengajak kepada kebaikan dan memerintah kepada perbuatan baik, dan melarang dari kemungkaran, dan merekalah orang-orang yang beruntung.
[Ali Imran 3:104].

6.      Penegakkan Hukum dan HAM

 Di Saudi Arabia, orang yang membunuh setelah melalui proses peradilan yang syar’i, akan mendapatkan qishash (pembalasan) bunuh –tentunya- dengan cara yang disyari’atkan. Yaitu dipenggal lehernya dengan pedang di hadapan orang banyak. Biasanya, sebelum dihukum mati, orang yang mendapat qishash ini dinasihati untuk bertaubat dan diingatkan tentang keutamaan akhirat di atas dunia. Adapun pelajaran bagi yang lain supaya tidak mudah menumpahkan darah manusia.

 Allah Azza w a Jalla berfirman:

 وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَیَاةٌ يَا أُولِي الَْألْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa. [al-Baqarah 2:179].

7.      Dakwah sunnah nabi

·         Kebiasaan jabat tangan dan Tebar salam
Diantara kebiasaan baik orang-orang Saudi Arabia adalah bila bertemu mereka akan saling mendoakan antara yang satu dengan lainnya. Seperti mendoakan agar senantiasa diberi keselamatan, keberkahan, rahmat dari Allah, dan lainnya. Kebiasaan saling mendoakan ini tentu membawa pengaruh terhadap keharmonisan hubungan diantara masyarakat.

·         Tentara dan Polisi Berjenggot
Di Kerajaan Saudi Arabia, kita akan terbiasa mendapatkan tentara dan polisi itu berjenggot, karena membiarkan jenggot bagi laki-laki merupakan kewajiban, dan ini umum baik yang polisi ataupun lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi w a sallam bersabda:

 أَحْفُوْا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوْا اللِّحَى

 Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot. [HR. al-Bukhari, dari Abdullah bin Umar].

·         Sunnah non isbal
Demikian pula banyak diantara mereka yang memakai celana di atas mata kaki untuk mengamalkan sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam:

 مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَیْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النّارِ
 Apa yang ada di bawah kedua mata kaki dari kain ada di neraka.
 [HR. al-Bukhari].
·         Sholat Berjamaah
Banyak polisi-polisi yang berhenti mampir ke masjid-masjid untuk menunaikan shalat berjamaah. Ini semua tidak mengganggu tugas mereka. Beberapa waktu bahkan diadakan perlombaan hafalan al-Qur’an untuk kalangan polisi dan tentara. Begitu adzan berkumandang kantor-kantor, toko-toko dan pusat perbelanjaan segera tutup. Mobil patroli Badan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar mulai bergerak memasuki jalan dan gang di perkampungan. Dengan pengeras suara di tangan, mereka mengajak orang ke Masjid, mengingatkan mereka yang masih sibuk dengan pekerjaan mereka, da menindak toko atau kantor yang belum tutup. Surat ijin usaha mereka bisa dicabut karena kesalahan itu. Kami tidak tahu, apakah ada pemandangan seperti ini di negeri lain ? Para Ulama Saudi memang pada umumnya memfatwakan wajibnya shalat jamaah.

.
·         Shalat Istisqa’
Ketika lama tidak hujan, biasanya ada perintah langsung dari pemerintah kepada masjid-masjid di seluruh penjuru negeri untuk mendirikan shalat Istisqa’, yaitu shalat minta hujan untuk meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.



8.      Kegiatan Ekonomi

Apabila kita memasuki supermarket di Saudi Arabia maka kita tidak akan mendengarkan lagu-lagu di putar keras-keras. Kebanyakan tidak ada suara, atau terkadang yang diputar adalah murattal al-Qur’an. Lima belas atau tiga puluh menit sebelum waktu shalat tiba, para pembeli sudah diminta keluar meninggalkan supermarket untuk mengerjakan shalat.

 Allah Azza w a Jalla berfirman:

 فَأَقِیمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِینَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

 Maka tegakkanlah shalat, sesungguhnya shalat adalah kewajiban yang sudah ditentukan waktunya. [an Nisa’ 4:103].

9.      Dakwah

Perhatian pemerintah Saudi terhadap al-Qur’an sangatlah besar. Mulai dari percetakan khusus al-Qur’an yang di dalamnya bergabung para Ulama dan Syaikh-Syaikh yang ahli dalam bidang al-Qur’an, penulisannya, cara membacanya, tafsirnya, dan lain-lain.

Tahfizh al-Qur’an juga semarak. Hampir setiap kampung terdapat masjid yang mengadakan halaqah tahfizh al-Qur’an, biasanya untuk anak laki-laki. Untuk laki-laki dewasa juga ada meski tidak sebanyak halaqah tahfizh anak-anak. Sedangkan untuk tahfizh wanita, baik anak-anak maupun dewasa diadakan di sekolah khusus tertutup bukan di masjid, kecuali di masjid besar seperti Masjid Nabawi, karena memang tempatnya memungkinkan.

Tahfizh al-Qur’an ini biasanya dilaksanakan setelah Ashar, karena waktu pagi untuk belajar di sekolah. Dan yang tidak sekolah pada pagi hari banyak diantara mereka yang memilih tahfizh pagi hari.

Di Saudi juga ada lembaga yang kegiatannya terfokus pada tahfizh bagi orang lanjut usia. Banyak diantara orang tua yang hafal al-Qur’an padahal umurnya sudah lebih dari 50 tahun.


10.  Negeri Paling Aman

 Tidak berlebihan jika kami mengatakan bahwa Arab Saudi adalah salah satu negeri paling aman di dunia saat ini. Dahulu jalur haji merupakan jalur maut karena hadangan para perampok. Saat itu perjalanan haji adalah perjalanan yang menakutkan, sehingga saat berpamitan kepada handai tolan, mereka dilepas dengan kekhawatiran tidak akan bertemu lagi. Kondisi itu berubah setelah Raja Abdul Aziz –pendiri dinasti Saudi ketiga- menjadi penguasa Jazirah Arab. Beliau menugaskan setiap kabilah untuk menjaga keamanan wilayah masing-masing. Jika sampai ada jamaah haji yang dirampok atau dibunuh di suatu wilayah itu. Sejak saat itu, jamaah haji bisa tenang dalam menjalani perjalanan ibadah mereka.

Pada masa sekarang, hampir-hampir tidak ada keluarga di Saudi yang tidak memiliki mobil, termasuk golongan miskin sekalipun. Bahkan hampir setiap pria dewasa memiliki mobil sendiri. Namun sebagian besar rumah tidak memiliki garasi. Mobil-mobil itu hanya mereka parkir di pinggir jalan. Begitu sepanjang waktu tanpa ada kekhawatiran hilang. Berarti tidak ada pencurian di sana ? Ada, tapi jarang, padahal kesempatan untuk berbuat jahat begitu besar.

 Seorang kawan pernah memasuki terminal bus kota Jeddah –kota terbesar kedua menjelang Shubuh dengan membawa tujuh koli bagasi sendirian. Namun ternyata dia tidak menemui gangguan apapun. Saat waktu shalat Shubuh tiba, dia pergi ke mushalla terminal dan meninggalkan barang sebanyak itu begitu saja di pinggir jalan dan barang itu tidak hilang. Bayangkan jika hal serupa terjadi di Jakarta atau Surabaya!

Bahkan saat banyak negara Timur Tengah yang lain dilanda gejolak dalam beberapa tahun belakangan, kemanan Arab Saudi tetap stabil, dan semoga terus demikian. Negeri ini seolah-olah merupakan negeri yang berbeda dengan lainnya. Saat pemberontakan di negara-negara tetangga di kobarkan dari mimbar-mimbar masjid, para khatib Arab Saudi serentak membela dan mendoakan kebaikan bagi Raja Abdullah dalam setiap mimbar Jumat. Paparan ini mengingatkan kita akan janji Allah Ta’ala untuk para penegak tauhid, seperti dalam ayat-ayat berikut:

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap mengibadahi-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”.
 [an-Nur 24:55].

 الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَھُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَھُمُ الَْأمْنُ وَھُمْ مُھْتَدُونَ

 Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang orang yang mendapat petunjuk.
 [al-An’am 6:82].

PENUTUP
Itulah sebagian dari apa yang kita lihat di negara Saudi Arabia. Kita tidak pungkiri bahwa kekurangan masih ada di sana-sini. Namun tidak diragukan juga bahwa dakwah tauhid yang dirintis syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah membuahkan hasil yang manis. Mereka yang ingin menegakkan syariat Islam hendaknya mengambil teladan dari perjalanan dakwah beliau. Kesempurnaan hanya milik Allah Ta’ala. Kewajiban kita sebagai hamba adalah mengadakan perbaikan semampu kita. Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa kita semua.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 7 Tahun XVII 1434 H-2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo –Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183

Judul Asli : PRAKTEK KEAGAMAAN DI SAUDI ARABIA DAN FAKTA YANG DIRASAKAN MASYARAKAT DI SANA
Oleh : Ustadz Abdullah Roy M.A
Artikel : almanhaj.or.id


Read more

Persaksian Akidah Safaat Dll Asy-Syaikh Muhammad Bin ‘Abdul Wahhab

0 komentar
Berikut adalah terjemahan dari sebuah tulisan berjudul Risalatu asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab ila Ahlil Qashim lamma Sa`alu-hu ‘an ‘Aqidatih. Judul tersebut jika diartikan secara langsung berarti “Surat asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab kepada penduduk al-Qashim ketika mereka bertanya tentang akidah beliau.”
 Secara kenyataan, risalah ini memang sebuah jawaban dari asy-Syaikh kepada penduduk al-Qashim, sekaligus sebagai persaksian akidah beliau rahimahullaah. Meskipun ringkas, setidaknya tulisan ini telah mewakili sebagai sebuah bantahan atas sederet tuduhan dusta dan kebohongan yang disandarkan kepada beliau.
Bismillaahir rahmanir rahim
 Aku mempersaksikan kepada Allah, dan malaikat-malaikat yang menghadiriku. Dan aku mempersaksikan kepada kalian bahwa sesungguhnya aku berakidah dengan akidah al-Firqatun Najiyah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Di dalamnya terdapat keimanan kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, kebangkitan setelah kematian, keimanan kepada takdir baik dan yang buruk. Dan termasuk dalam keimanan kepada Allah, ialah beriman dengan sifat yang Allah menyifati diri-Nya dengan sifat tersebut melalui lisan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tanpa melakukan perubahan maupun penolakan. Bahkan aku berkeyakinan bahwa Allah subhaanahu wa ta’aalaa:

 لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

 “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” Asy-Syura: 11
 Sehingga aku tidak akan menafikan segala yang telah Allah subhaanahu wa ta’aalaa sifatkan untuk diri-Nya, aku pun tidak merubah-rubah kalimat-kalimat dari tempat-tempatnya. Aku juga tidak menyimpangkan satu pun dari nama-nama dan ayat-ayat-Nya, aku tidak pula menanyakan “bagaimana” tentang sifat-sifat itu. Aku tidak akan memisalkan sifat-sifat Allah subhaanahu wa ta’aalaa dengan sifat makhluk-Nya, karena Allah tidak ada yang sebanding dan tidak ada yang sama dengan-Nya, tidak ada tandingan bagi-Nya. Allah subhaanahu wa ta’aalaa tidak dikiaskan dengan dengan makhluk-Nya, sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’aalaa lebih tahu tentang diri-Nya dan tentang selain-Nya. Allah adalah yang paling benar dan paling baik ucapan-Nya, sehingga Allah menyucikan diri-Nya dari segala yang disifatkan oleh orang-orang yang menyelisihi-Nya, termasuk orang ahlut takyif (orang yang bertanya tentang bagaimana hakikat sifat Allah subhaanahu wa ta’aalaa) dan ahlut tamtsil (orang yang memisalkan sifat Allah subhaanahu wa ta’aalaa dengan sifat makhluk-Nya). Allah juga menyucikan diri-Nya dari orang-orang yang meniadakan sifat-sifat bagi Allah, termasuk di dalamnya ahlut tahrif (orang yang merubah-rubah makna sifat dari makna yang sebenarnya) dan ahlut ta’thil (orang yang menolak adanya sifat-sifat bagi Allah), Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman:

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمّا يَصِفُوْنَ . وَسَلاَمٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 “Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.” Ash-Shaffat: 180-182
 Adapun al-Firqatun Najiyah, mereka dalam hal perbuatan-perbuatan Allah subhaanahu wa ta’aalaa telah bersikap tengah antara Qadariyah (kelompok yang mengingkari takdir) dan Jabriyah (kelompok yang menetapkan takdir tetapi meniadakan kehendak bagi manusia), dalam hal ancaman Allah mereka bersikap tengah antara Murji`ah (kelompok yang menyatakan bahwa perbuatan maksiat seorang hamba tidak akan berakibat siksaan atasnya) dan Wa’idiyyah (kelompok yang berlebihan dalam menetapkan ancaman Allah). Al-Firqatun Najiyah dalam hal keimanan dan agama mereka bersikap tengah antara Haruriyah dan Mu’tazilah, juga pertengahan antara Murji`ah dan Jahmiyah. Adapun tentang para sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, al-Firqatun Najiyah bersikap tengah antara Rafidhah dan Khawarij.

 Aku berkeyakinan bahwa Al-Qur`an adalah Kalamullah yang diturunkan dari-Nya dan bukan makhluk. Al-Qur`an itu bermula dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya pula. Aku berkeyakinan bahwa Allah subhaanahu wa ta’aalaa benar-benar berbicara dengan Al-Qur`an itu, dan Allah menurunkan Al-Qur`an kepada Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, hamba, utusan, dan kepercayaan-Nya melalui wahyu dan perantara antara Dia dan hamba-hamba-Nya. Aku beriman bahwa Allah subhaanahu wa ta’aalaa mengerjakan segala yang Allah kehendaki, tidak ada satu pun yang terjadi melainkan atas kehendak-Nya, dan tidak ada satu pun yang keluar dari keinginan-Nya. Tidak ada satu pun di alam ini yang keluar dari takdir-Nya, dan tidak ada satu pun yang muncul melainkan termasuk dalam pengaturan-Nya. Tidak ada tempat menghindar bagi siapapun untuk terlepas dari takdir yang ditentukan, dan tidak ada seorang pun yang bisa melebihi apa yang telah dituliskan baginya di dalam lembaran yang tertulis.

 Aku meyakini wajibnya beriman kepada segala hal yang Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kabarkan tentang perkara yang akan terjadi setelah kematian. Sehingga aku beriman kepada ujian dan nikmat kubur, aku beriman kepada peristiwa dikembalikannya ruh-ruh ke dalam jasad-jasadnya, yang kemudian manusia semuanya berdiri menuju Rabbul ‘Alamin dalam keadaan mereka itu tidak beralas kaki, telanjang dan tidak membawa bekal. Sementara matahari menjadi dekat dengan mereka. Kemudian timbangan-timbangan ditegakkan, sehingga amalan-amalan para hamba ditimbang dengannya. Siapa saja yang timbangannya berat maka mereka itulah orang-orang yang beruntung, dan siapa saja yang timbangannya ringan maka mereka itulah yang merugikan diri-diri mereka, dan mereka kekal di dalam neraka selamanya. Lalu buku-buku catatan amalan dibagikan, maka sebagian mereka mengambil dengan tangan kanan dan sebagian mereka mengambil dengan tangan kirinya.
 Aku beriman kepada telaga Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam di tempat berkumpulnya manusia pada hari kiamat nanti. Air telaga itu lebih putih daripada susu, lebih manis daripada madu. Bejana-bejananya sebanyak bintang-bintang di langit. Barangsiapa meminum satu teguk saja dari telaga itu niscaya setelah itu dia tidak akan merasa haus selamanya. Aku pun beriman bahwa ash-Shirath (jembatan) itu dibentangkan di atas tepi Jahannam, manusia akan melintasinya menurut kadar amalan-amalan mereka.

 Aku beriman kepada syafaat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan aku beriman bahwa beliau adalah orang pertama yang menyampaikan syafaat dan yang pertama diberi syafaat. Tidak ada seorang pun yang mengingkari syafaat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kecuali para penyeru bid’ah dan kesesatan. Akan tetapi syafaat itu tidak akan terjadi kecuali setelah izin dan ridha Allah, sebagaimana firman-Nya:

 وَلاَ يَشْفَعُوْنَ إلاَّ لِمَنْ ارْتَضَى

 “Mereka tidak memberi syafaat kecuali kepada orang-orang yang Allah meridhainya.” Al-Anbiya`: 28

 Dan Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman:

 مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إلاَّ بِإِذْنِهِ

 “Tidak ada seorang pun yang memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya.” Al-Baqarah: 255

 Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman:

 وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِيْ السَّمَوَاتِ لا تُغْنِيْ شَفَاعَتُهُمْ شَيْئاً إلاَّ مِنْ بَعْدِ أنْ يَأذَنَ اللهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى

 “Dan betapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka tidak akan bermanfaat kecuali setelah Allah mengijinkan bagi orang yang Allah kehendaki dan Allah ridhai.” An-Najm: 26

 Allah subhaanahu wa ta’aalaa tidak akan meridhai selain kepada orang yang bertauhid. Adapun orang-orang musyrik, maka mereka tidak mendapatkan sedikit pun bagian dari syafaat tersebut. Sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’aalaa firmankan:

 فَمَا تَنْفَعُهُمُ شَفَاعَةُ الشَّافِعِيْنَ

 “Tidak akan bermanfaat bagi mereka syafaat orang-orang yang memberi syafaat.” Al-Muddatstsir: 48

 Aku beriman bahwa surga dan neraka adalah dua makhluk yang keduanya telah tercipta. Surga dan neraka telah ada pada hari ini dan keduanya tidak akan sirna. Aku beriman bahwa kaum mukminun akan melihat Rabb mereka dengan mata kepala mereka pada hari kiamat nanti. Mereka akan melihat-Nya sebagaimana mereka melihat bulan purnama, yakni mereka tidak terhalangi (tidak berdesakan) ketika melihatnya.

 Aku beriman bahwa Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para Nabi dan Rasul. Tidak akan sah iman seorang hamba sampai dia beriman kepada risalah beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bersaksi dengan kenabian beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Aku beriman bahwa umat yang paling utama ialah Abu Bakr ash-Shiddiq, kemudian ‘Umar al-Faruq, kemudian ‘Utsman Dzun Nurain kemudian ‘Ali al-Murtadha, kemudian sahabat yang lain yang termasuk dalam 10 orang (yang telah dipersaksikan bahwa mereka akan masuk surga), kemudian para sahabat yang ikut perang Badr, kemudian para sahabat yang ikut dalam baiat di bawah pohon dalam Bai’atur Ridhwan, kemudian seluruh sahabat radhiyallahu ‘anhum. Aku mencintai para sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan aku menyebut kebaikan-kebaikan mereka, aku mengakui keridhaan Allah subhaanahu wa ta’aalaa atas mereka, dan aku memintakan ampun untuk mereka. Aku menahan diri dari menyebutkan kejelekan mereka, aku tidak berbicara tentang apa yang mereka perselisihkan di antara mereka. Aku meyakini keutamaan mereka, sebagai bentuk pengamalan firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa:

 وَالَّذِيْنَ جَاؤُا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُوُلُوْنَ رَبّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبّنَا إنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

 “Dan orang-orang yang datang setelah mereka yang berkata,”Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan, dan jangan engkau jadikan di dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” Al-Hasyr:10

 Dan aku menyatakan keridhaan Allah subhaanahu wa ta’aalaa atas Ummahatul Mukminin (para ibunda kaum mukminin), yang mereka itu disucikan dari segala bentuk kejelekan.

 Dan aku menetapkan karamah para wali Allah subhaanahu wa ta’aalaa serta mukasyafah (firasat) mereka. Akan tetapi mereka tidak memiliki hak sedikit pun dari hak-hak Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Tidak boleh diminta dari mereka segala perkara yang tidak dimampui selain oleh Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Dan aku tidak mempersaksikan atas seorang pun dari kaum muslimin dengan surga maupun neraka kecuali orang-orang yang telah dipersaksikan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi aku berharap bagi orang yang berbuat baik (untuk mendapat surga) dan aku menakutkan (terjatuh ke dalam neraka) atas diri orang yang berbuat buruk. Dan aku tidak mengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin dengan suatu dosa, dan aku tidak mengeluarkannya dari lingkaran Islam. Aku pun berpandangan bahwa jihad akan terus tegak bersama setiap pemimpin, yang baik maupun yang jahat. Shalat jamaah di belakang mereka pun tetap diperbolehkan. Dan jihad tetap berlangsung semenjak Allah subhaanahu wa ta’aalaa mengutus Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam sampai golongan terakhir dari umat ini berperang melawan Dajjal. Kejahatan seorang yang jahat dan keadilan seorang yang adil tidak bisa membatalkan (meniadakan) jihad itu. Aku juga berpandangan bahwa wajib untuk mendengar dan taat kepada para pemimpin kaum muslimin, yang baik maupun yang jahat, selama mereka tidak memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Siapapun yang menduduki kekhilafahan dan manusia bersepakat atas kepemimpinannya, mereka ridha atasnya sedangkan dia menang atas mereka dengan pedangnya hingga menjadi khalifah maka wajib menaatinya. Memberontak kepadanya adalah haram. Aku pun memandang bahwa hajr (meninggalkan) penyeru bid’ah dan memisahkan diri darinya berlaku sampai mereka bertaubat. Aku menghukumi mereka berdasar apa yang tampak dari mereka, dan aku menyerahkan rahasia-rahasia mereka kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Dan aku meyakini bahwa segala perkara yang diada-adakan dalam agama ini adalah bid’ah.

 Aku meyakini bahwa iman itu adalah ucapan dengan lisan, perbuatan dengan anggota badan, keyakinan dengan hati. Aku meyakini bahwa iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Aku juga berkeyakinan bahwa iman itu memiliki 70 sekian cabang, yang paling tinggi adalah syahadat Laa ilaha illallah, yang paling bawah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Aku memandang wajib untuk memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, sesuai dengan yang diwajibkan oleh syariat Muhammadiyyah yang suci.

 Inilah akidah yang ringkas, aku menulisnya dalam keadaanku yang sibuk. Dengan tujuan agar kalian mengetahui apa yang ada di sisiku, dan Allah saksi atas apa yang kita ucapkan.

 Kemudian setelah itu, tidak tersamarkan bagi kalian bahwa telah sampai kepadaku berita bahwa surat dari Sulaiman bin Sahim telah sampai kepada kalian. Dan sebagian orang yang menisbahkan dirinya kepada ilmu di antara kalian telah menerima dan membenarkannya. Dan sungguh, Allah subhaanahu wa ta’aalaa  Mengetahui bahwa laki-laki itu (Sulaiman) telah berdusta atas namaku dengan banyak hal yang aku tidak pernah mengatakannya, dan sebagian besar dari perkara-perkara itu tidak terlintas di pikiranku.
Di antara perkara yang ia tuduhkan itu ialah ucapannya bahwa:

 - Aku membatilkan (menolak) kitab-kitab empat madzhab.
 - Aku mengatakan bahwa manusia sejak 600 tahun mereka tidak berada di atas sesuatu pun, dan ucapannya bahwa aku mengaku berhak untuk berijtihad.
 - Aku keluar dari taklid dan aku berkata bahwa perselisihan ulama adalah adzab.
 - Aku mengkafirkan orang yang bertawassul dengan orang-orang shalih.
 - Aku mengkafirkan al-Bushiri disebabkan ucapannya, “Ya akramal khalqi.”
 - Aku berucap bahwa sekiranya aku bisa merobohkan kubah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam niscaya aku akan merobohkannya. Dan sekiranya aku berkuasa atas Ka’bah niscaya aku jadikan saluran airnya dari kayu.
 - Aku mengharamkan untuk menziarahi kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan aku mengingkari ziarah kubur kedua orang tua dan yang selain keduanya.
 - Aku mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain Allah subhaanahu wa ta’aalaa.
 - Aku mengkafirkan Ibnul Faridh dan Ibnu ‘Arabi.
 - Aku membakar buku Dala`ilul Khairat dan Raudhur Riyahain dan aku menamainya Raudhusy Syayathin.

 Jawabanku terhadap perkara-perkara ini dengan aku katakan, “Subhaanaka hadza buhtanun ‘azhim (Maha Suci Engkau ya Allah, ini adalah kedustaan yang besar).” Sebelum ini, ada orang yang membuat kedustaan bahwa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam mencela ‘Isa bin Maryam dan mencela orang-orang shalih. Maka sungguh, hati-hati mereka memiliki keserupaan dengan kebohongan yang dibuat-buat dan perkataan dusta. Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman:

 إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِآيَاتِ اللهِ وَأُلَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ

 “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” An-Nahl: 105
 Mereka telah berdusta terhadap Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya para malaikat, ‘Isa dan ‘Uzair berada di dalam neraka.” Kemudian Allah subhaanahu wa ta’aalaa menurunkan tentang hal ini:
 إِنَّ الَّذِيْنَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِّنَّا الْحُسْنَى أُوْلَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُوْنَ
 “Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.” Al-Anbiya`: 101
 Adapun permasalahan-permasalahan yang lain, yakni bahwa aku berkata:
 - Tidak sempurna keislaman seseorang sampai dia mengetahui makna Laa ilaha illallah dan aku menjelaskan maknanya kepada orang yang datang kepadaku.
 - Aku mengkafirkan orang yang bernadzar jika ia berkeinginan dengan nadzar itu untuk mendekatkan diri kepada selain Allah dan melakukan nadzar semata-mata bertujuan untuk itu.
 - Bahwa menyembelih untuk selain Allah adalah kekufuran, dan sembelihannya haram untuk dimakan.
 Maka permasalahan-permasalahan ini benar dariku dan aku lah yang mengatakannya. Aku memiliki dalil-dalil dari Kalamullah dan ucapan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam, juga dari ucapan para ulama yang diikuti semisal imam yang empat. Jika Allah memudahkan, aku akan menjelaskan jawabannya di dalam risalah tersendiri Insya Allah ta’ala.
 Kemudian ketahui dan renungkanlah firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa:

 يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوْا أَنْ تُصِيْبُوْا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِيْنَ

 “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” Al-Hujurat: 6 — ‎bersama ‎‎الأسد رمل‎, Tarmanto Bin Abu Sudirah, Abu Faiz Al Ghifari, dan 23 lainnya‎.‎





Read more