• Manhaj Salaf

    Manhaj Salaf Manhaj Kebenaran

    Risalah Manhaj Salaf, Sebuah metodologi dalam beragama

  • As Sunnah

    Apa dan bagaimana Sunnah?

    Golongan apa dan siapa Ahli Sunnah

  • Al Jamaah

    Al Jamaah

    Penjelasan Ilmiyyah Al jamaah

  • Risalah Bidah

    Bahayanya Bidah

    Memahami Bidah secara Ilmiyyah dan Tepat

  • Faham Sesat

    Faham Menyimpang

    Studi Ilmiyyah Pemikirn faham dan Ideologi Menyimpang Islam

  • Wahabi

    Wahabi

    Artikel Konferehensif tentang Wahabi dan Dakwah Syekh Abdul Wahab

Tampilkan postingan dengan label maulidan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label maulidan. Tampilkan semua postingan

Mengungkap Proyek Bisnis Maulud Nabi SAW

0 komentar
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ




Topik pembahasan kali ini adalah seputar anggaran Maulid Nabi.

Seseorang (Bapak Taufiq – klender, jakarta) bercerita ketika disodorkan kepadanya sebuah proposal Maulid Nabi, berikut sebagian isi proposal atau anggarannya:

Anggaran Proposal Maulid 1433H
1. Sewa tenda dan kursi Rp. 3.000.000,-
2. Akomodasi dan Konsumsi Rp. 5.000.000,-
3. Uang saku Habib Rp. 30.000.000,- Wowww!
4. Uang keamanan Rp. 5.000.000,-
5. Lain-lain tidak terduga Rp. 6.000.000,-
Total Anggaran Rp. 49.000.000,-

Maka bapak itu berkata kepada si penyodor proposal/panitia, “…dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Panitia, maaf saya tidak bisa memberi infaq untuk acara ini, tapi kalo ada hal lain… seperti warga yang terkena musibah, sakit dan butuh pertolongan.. saya insya Allah yang terdepan”.

Bapak itu juga berkata mengenai hal ini, “…ditempat saya belum seberapa… ada di daerah kalimalang -saya lupa nama masjidnya- anggaran untuk habib (penceramah) Rp.70juta.. total anggaran sekitar 200jutaan..”

(Sumber: dari status fb ust. Naharuddin Syuhada, https://www.facebook.com/naharuddin.syuhada/posts/2424448789044)


Anggaran yang direncanakan panitia peringatan maulid Nabi biasanya mencapai belasan hingga duapuluhan juta rupiah. Pos yang cukup menonjol dari anggaran panitia maulid ini, biasanya untuk nasi kebuli, honor penceramah (narasumber) dan habib yang jumlahnya bisa lebih dari satu, bahkan ada yang belasan.

Bagi sebagian masjid atau mushalla, peringatan maulid Nabi tanpa menghadirkan sejumlah habib terasa kurang afdhol. Karena, para habib dipercaya sebagai keturunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (versi syi’ah) melalui jalur Husein ra hingga ke pasangan Ali bin Abi Thalib ra dan Fatimah Az-Zahra ra (putri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Kehadiran para habib tadi, bukan sebagai narasumber atau penceramah, tetapi bagai ornament/ hiasan. Mereka duduk sejajar narasumber dan menghadap jama’ah, hingga acara selesai. Usai acara, panitia membagi-bagikan amplop berisi uang dan kotak makanan untuk dibawa pulang untuk jajaran yang menghadap jama’ah itu, selain hidangan yang sudah dilahap di tempat. Di beberapa masjid atau mushalla, peringatan maulid Nabi ada juga yang dibarengi dengan santunan kepada sejumlah anak yatim. Konsekuensinya, anggaran panitia akan membengkak dan secara otomatis kian membebani warga sekitar. Dan kadang anak yatim itu hanya sebagai semacam daya pikat, sedang uang yang untuk anak yatim tidak seberapa.

Apa hubungan akhlaq Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nasi kebuli, para habib, “musik islami” dan petasan? Yang jelas, peringatan maulid Nabi bagi sebagian kalangan adalah kesempatan makan nasi kebuli, dan hidangan lainya yang jarang diperoleh di rumah sendiri. Bagi sebagian lain, ini merupakan momentum untuk mendapatkan “pahala” sekaligus rezeki tambahan dengan jadi tukang parkir dadakan dan seabagainya.

Bagi yang setuju dengan moment peringatan maulid Nabi seperti ini, mereka antara lain berdalih, hal itu merupakan bagian dari da’wah kultural. Mungkin maksudnya untuk menyampaikan nilai-nilai Islam bisa melalui perantaraan media kebudayaan. Memperkenalkan atau menyegarkan ingatan tentang sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat ditempuh melalui nasi kebuli dan petasan, selain ceramah, pembacaan barzanji, suguhan “musik Islami” dan sebagainya.

Ibarat memasukkan obat ke dalam tubuh, perlu media pengantar. Misalnya, obat batuk, media pengantarnya sirup dan air. Sehingga tidak terasa pahit di lidah. Hal yang sama juga bisa ditempuh untuk memasukkan racun ke dalam tubuh, sehingga tidak terasa pahit di lidah. Begitulah fenomena da’wah kultural: seolah positif padahal negatif.
(Sumber: Artikel Perayaan Maulid, http://nahi*****.com/)

Tidak cukup sampai disitu, karena itu hanya sebagian contoh kecil yang ada di masyarakat kita khususnya, yang membuktikan bahwa bid’ah (dalam hal ini adalah acara Maulid Nabi) begitu mahal dan menyulitkan bagi kita. Masih ada beberapa contoh lainnya dan ini benar-benar terjadi di lingkungan kita. Sebagian contoh lainnya adalah:

1. Kelas Ekonomi Kebawah.

- ANGGARAN BIAYA MAULID NABI MUHAMMAD 1429
Biaya Penceramah : Rp. 600.000
Biaya Qori & Marawis : Rp. 300.000
Biaya Konsumsi Tamu 5.000 * 150 : Rp. 750.000
Total Biaya Spanduk 100.000 * 2 : Rp.200.000
Transportasi Jemput Penceramah : Rp. 50.000
Biaya Tak terduga : Rp. 100.000
Total Biaya Keseluruhan Rp. 2.000.000
(Sumber: http://groups.yahoo.com/group/yalmics/message/17)

2. Kelas Ekonomi Menengah.

- Baksos dan Peringatan Maulid Nabi 1432
Penceramah Rp.3.000.000
Qari Rp.500.000
Jemputan ustadz/qari Rp.700.000
Konsumsi Rp.6.250.000.
Dan lain-lain.
Total Rp.40.750.000
(Sumber: http://irmap-alwustho.blogspot.com/2011/01/proposal-peringatan-maulid-nabi.html)

- Anggaran Maulid Nabi Masjid Agung Jawa Tengah
Total Rp. 40.351.000,- (penceramah Habib)
(Sumber: http://sufijayabooks.blogspot.com/2010/05/proposal-menyambut-maulid-nabi-muhammad.html)

- Anggaran Maulid Nabi Masjid Jami Nurul Fajri
Kesekretariatan Rp.500.000
Acara (Honorium Mubalig) Rp.5.000.000
Konsumsi Rp.6.000.000
Peralatan & perlengkapan Rp.4.000.000,00
Publikasi,dekorasi dan dokumentasi Rp.2.000.000
Transportasi Rp.1.000.000
Humas Rp.500.000
Biaya tak terduga Rp.1.000.000
Jumlah Rp.20.000.000
(Sumber: http://masjidjaminurulfajri2leanfriends.blogspot.com/2012/01/proposal-maulid-2012.html)

3. Kelas VIP.

- Total Anggaran Peringatan Maulid, HUT, dan lain-lain di kota Jantho sebesar Rp.200juta.
“…dana senilai Rp200 juta digunakan untuk berbagai kegiatan, seperti lomba karnaval, gotong royong dan perlombaan sejumlah olahraga. Selain itu, sebagian besar dana itu digunakan untuk puncak acara yang digelar di Lapangan Bungong Jeumpa, Kota Jantho, termasuk peringatan Maulid Nabi yang dibuat Pemkab Aceh Besar,” kata Asisten I Setdakab Aceh Besar Abu Bakar malam kepada Pikiran Merdeka, Sabtu (5/5).
(Sumber: http://pikiranmerdeka.com/read/1631/2012/05/07/hut-kota-jantho-habiskan-rp200-juta)

- Di Madiun, Jawa Timur, peringatan maulid Nabi dibiayai dari dana APBD Madiun sebesar Rp 70 juta. Bentuknya, berupa Pawai Taaruf yang antara lain diikuti sejumlah pelajar di sana, dilanjutkan dengan berebut tumpeng. Kegiatan ini sudah menjadi tradisi masyarakat Madiun setiap tahunnya, khususnya dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasanya berlangsung sejak pukul 07:00 wib hingga siang hari. Bagi yang percaya, tumpeng yang diperebutkan setiap maulid tersebut bisa memberikan berkah.
(Sumber: http://nahimun****.com/4241/perayaan-maulid/)

- Peringatan Maulid di Mataram.
Menurut H. Zainur yang juga Kepala Lingkungan Gapuk, Dasan Agung, kuda-kudaan tersebut didatangkan dari Lombok Timur dan Lombok Tengah beserta pengusungnya dan rata-rata disewa Rp300.000 per unit dengan jumlah 30 kuda-kudaan sekitar 30 unit. Saat ini masyarakat Kota Mataram, Lombok sedang merayakan Maulid yang dirayakan secara tradisional dengan menyediakan berbagai jenis makanan khas tradisional Lombok termasuk kue. Setiap Kepala Keluarga (KK) hampir rata-rata merayakan maulid baik dirumah masing-masing maupun secara bersamaan di masjid dengan mengundang tamu dari luar lingkungan dan dirayakan sehari suntuk.
Dana yang dihabiskan untuk perayaan maulid minimal Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per KK, sementara untuk kebutuhan daging sapi setiap KK sekitar 15 kg belum termasuk daging ayam, telur dan sayur-mayur.

(Sumber: https://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,22037-lang,id-c,warta-t,Pawai+Arak+arakan+Maulid+di+Mataram+Meriah-.phpx)

Komentar ana: Jika 1 KK saja menghabiskan dana 1,5 juta sd 2 juta, bagaimana jika jumlahnya ada 1000 KK, berapa total uang yang dihabiskan secara keseluruhan???

4. Zaman dulu.

Menurut Abu Syamah dalam kitab al-Ba’its ala Inkaril Bida’ wal-Hawadits mengatakan: Orang yang pertama melakukan hal tersebut di Mosul (Mushil) adalah syaikh Umar ibn Muhammad al-Mulla salah seorang shalih yang terkenal, maka penguasa Arbil meniru beliau.” Para sejarawan termasuk Ibnu Katsir dalam Tarikhnya menyebutkan bahwa perayaan maulid yang diadakan oleh Raja Muzhaffar ini dihadiri oleh kaum shufi, melalui acara sama’ (pembacaan qashidah dan nyanyian-nyanyian keagamaan kaum shufi) dari waktu zhuhur hingga fajar, dia sendiri ikut turun menari/ bergoyang (semacam joget-ala shufi). Dihidangkan 5000 kambing guling, 10 ribu ayam dan 100.000 zubdiyyah (semacam keju), dan 30.000 piring kue. Biaya yang dikeluarkan untuk acara ini –tiap tahunnya- sebesar 300.000 Dinar (1 dinar = 4,25 gr emas. Jadi kalau 300.000 dinar = 1,3 juta gr emas). Syaikh Umar ibn Muhammad al-Mulla yang menjadi panutan sultan Muzhaffar adalah seorang shufi yang setiap tahun mengadakan perayaan maulid dengan mengundang umara, wuzara (para mentri) dan ulama (shufi). Ibnul Hajj Abu Abdillah al-Abdari berkata, “Sesungguhnya perayaan ini tersebar di Mesir pada masanya, dan ia mencela bid’ah-bid’ah yang ada di dalamnya.” (Al-Madkhal: 2/11-12. http://nahimu****.com/4212/sejarah-maulid-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-2/)

Terakhir untuk kita, masihkah kita betah atas amalan-amalan yang memberatkan dan menyusahkan untuk kita sendiri? apalagi jika amalan-amalan tersebut adalah amalan-amalan ciptaan atau kreasi manusia, alias bid’ah, bukan berasal dari amalan-amalan yang bersumber dari wahyu ilahi?
Mau sampai kapan kita seperti ini? Melihat saudara-saudara kita diperalat dan diperbodoh oleh orang-orang yang memiliki kecerdasan dalam berbisnis, tidakkah kita iba terhadap mereka??

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,


يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ [البقرة/9]

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS Al-Baqarah: 9).


Wallahu a’lam.


والله أعلمُ بالـصـواب


Read more

Maulid, Ikut Tradisi Siapa Yah?? bisa jadi abu lahab yang merayakannya ketika rasul hidup

0 komentar

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

 
Baru-baru ini kita mungkin pernah mendengar sebuah acara raksasa, maulid terbesar yang diadakan di monas. Terlepas dari siapa yang mengadakan, atau habib mana yang menjadi pembicaranya.

Mungkin ada dari kita yang bertanya, siapa sih yang pertama kali mengadakan acara ulang tahun ini?

Apakah ulang tahun sama dengan Maulid? Maulid dengan ulang tahun adalah sama, hanya beda bahasa saja, maulid adalah bahasa arab dari ulang tahun.

Marilah kita telusuri sejarah yang ada, siapakah yang pernah mengadakan ulang tahun nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Yang pertama kali mengadakan maulid ketika Rasulullah masih hidup adalah paman beliau yang bernama Abu Lahab. Waktu itu Abu Lahab adalah orang musyrik penyembah berhala. Abu Lahab juga merupakan orang yang diancam akan mendapatkan siksa, sebagaimana tertera dalam surat Al lahab.
Dan anehnya, dalil yang menunjukkan kalau Abu Lahab ini merayakan maulid nabi ini dijadikan dasar oleh orang-orang yang gemar melakukan ritual maulid nabi ini.
Kemudian siapakah yang pertama kali mengadakan maulid nabi ketika Rasulullah sudah meninggal?

Diceritakan oleh para Ulama ahlussunnah, mereka yang pertama kali mengadakan maulid nabi adalah bani Fatimiyyun. Kebanyakan dari raja (penguasa) mereka adalah orang-orang yang zhalim, sering menerjang perkara yang haram, jauh dari melakukan perkara yang wajib, paling semangat dalam menampakkan bid’ah yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, dan menjadi pendukung orang munafik dan ahli bid’ah.
Bani Fatimiyyun adalah di antara manusia yang paling fasik (banyak bermaksiat) dan paling kufur.
Bani Fatimiyyun terkenal juga dengan sebutan Kelompok Bathiniyyah.
Bagaimana komentar ulama terhadap kelompok bathiniyyah ini?

Imam Abdul Qohir al-Baghdady rahimahullah (meninggal tahun 429 H) berkata : “Madzhab Bathiniyyah bukan dari Islam, tapi dia dari kelompok Majusi (penyembah api)
Beliau juga berkata : “Ketahuilah bahwa bahayanya Bathiniyyah ini terhadap kaum muslimin lebih besar dari pada bahayanya Yahudi, Nasrani, Majusi serta dari semua orang kafir bahkan lebih dahsyat dari bahayanya Dajjal yang akan muncul di akhir zaman.”
Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan : “Sesungguhnya Bathiniyyah itu orang yang paling fasik dan kafir. Barangsiapa yang mengira bahwa mereka itu orang yang beriman dan bertakwa serta membenarkan silsilah nasab mereka (pengakuan mereka dari keturunan ahli bait/Ali bin Abi Tholib,-pent) maka orang tersebut telah bersaksi tanpa ilmu. Allah berfirman :
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya” (QS. Al-Isra: 36)
Al Qodhi Abu Bakr Al Baqillaniy rahimahullah , beliau menyebutkan bahwa Bani Fatimiyyun adalah keturunan Majusi. Cara beragama mereka lebih parah dari Yahudi dan Nashrani. Bahkan yang paling ekstrim di antara mereka mengklaim ‘Ali sebagai ilah (Tuhan yang disembah) atau ada sebagian mereka yang mengklaim ‘Ali memiliki kenabian. Sungguh Bani Fatimiyyun ini lebih kufur dari Yahudi dan Nashrani.

Bahkan Bani fatimiyyun ini di berantas oleh Shalahudin Al ayubi, sebagimana yang dikatakan oleh Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah, :Sholahuddin-lah yang menaklukkan Mesir. Beliau menghapus dakwah ‘Ubaidiyyun yang menganut aliran Qoromithoh Bathiniyyah (aliran yang jelas sesatnya, pen). Shalahuddin-lah yang menghidupkan syari’at Islam di kala itu.

Selanjutnya, marilah kita lihat orang-orang yang terbaik yang layak untuk dijadikan panutan.
Siapa mereka?
Yang pertama adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam,.. apakah beliau pernah merayakan ulang tahunnya? atau ulangtahun bapaknya, ibunya, atau anaknya? TIDAK PERNAH SAMA SEKALI.
Yang kedua, para Sahabat.,.orang yang paling mencintai Rasulullah. Apakah ada sahabat yang pernah mengadakan ulang tahun?? TIDAK PERNAH SAMA SEKALI.
Yang ketiga, Para Thabi’in,.. apakah ada thabiin yang pernah mengadakan ulang tahun?? TIDAK PERNAH SAMA SEKALI.
Yang keempat, Para Thabiut thabi’in,..apakah mereka ada yang pernah mengadakan ulang tahun?? TIDAK PERNAH SAMA SEKALI.
Yang kelima,.. Imam yang empat, …..apakah mereka ada yang pernah mengadakan ulang tahun?? TIDAK PERNAH SAMA SEKALI.
Yang ke enam, para Ulama, seperti Imam Bukhari, Muslim,..dan ulama-ulama lainnya, sangat banyak sekali, ..apakah mereka ada yang pernah mengadakan ulang tahun?? TIDAK PERNAH SAMA SEKALI.
 
Dari keterangan diatas, sungguh kita dapati fakta sebenarnya, ternyata yang pertama mengadakan ulang tahun nabi adalah orang-orang yang sangat jelek agamanya,.. bahkan bukanlah dari pemeluk agama islam. Abu Lahab orang musyrik quraisy, bukan seorang muslim. Bani Ubaidiyyun adalah dari kelompok syiah qaramithah batinniyah yang jelas-jelas kesesatannaya..

Sedangkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, para thabi’in, thabi’ut thabi’in, Imam yang empat, para Ulama, tidak ada yang pernah satu kalipun mengadakan maulid nabi..
Kok ada sekelompok orang yang mengaku mencintai Rasulullah, mereka rame-rame mengadakan maulid nabi???
Padahal yang pertama kali mengadakan maulid nabi adalah orang-orang yang sudah dikenal keburukannya,..
Oleh karena itu, sudah saatnyalah kita kembali kepada ajaran yang benar. Tidak melakukan ritual-ritual yang ternyata itu dilakukan oleh orang-orang yang ingin menghancurkan islam itu sendiri….



والله أعلمُ بالـصـواب


Read more

Apa Hukum Merayakan Maulid Nabi?

0 komentar
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjawab:
Pertama, malam kelahiran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti kapan. Bahkan sebagian ulama masa kini menyimpulkan hasil penelitian mereka bahwa sesungguhnya malam kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Robi’ul Awwal dan bukan malam 12 Robi’ul Awwal. Oleh sebab itu maka menjadikan perayaan pada malam 12 Robi’ul Awwal tidak ada dasarnya dari sisi latar belakang historis.


Kedua, dari sisi tinjauan syariat maka merayakannya pun tidak ada dasarnya. Karena apabila hal itu memang termasuk bagian syariat Allah maka tentunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya atau beliau sampaikan kepada umatnya. Dan jika beliau pernah melakukannya atau menyampaikannya maka mestinya ajaran itu terus terjaga, sebab Allah ta’ala berfirman yang artinya
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan Kami lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Sehingga tatkala ternyata sedikit pun dari kemungkinan tersebut tidak ada yang terbukti maka dapat dimengerti bahwasanya hal itu memang bukan bagian dari ajaran agama Allah. Sebab kita tidaklah diperbolehkan beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara-cara seperti itu. Apabila Allah ta’ala telah menetapkan jalan untuk menuju kepada-Nya melalui jalan tertentu yaitu ajaran yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka bagaimana mungkin kita diperbolehkan dalam status kita sebagai hamba yang biasa-biasa saja kemudian kita berani menggariskan suatu jalan sendiri menurut kemauan kita sendiri demi mengantarkan kita menuju Allah? Hal ini termasuk tindakan jahat dan pelecehan terhadap hak Allah ‘azza wa jalla tatkala kita berani membuat syariat di dalam agama-Nya dengan sesuatu ajaran yang bukan bagian darinya. Sebagaimana pula tindakan ini tergolong pendustaan terhadap firman Allah ‘azza wa jalla yang artinya,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepada kalian.” (QS. Al-Maa’idah: 3)
Oleh sebab itu kami katakan bahwasanya apabila perayaan ini termasuk dari kesempurnaan agama maka pastilah dia ada dan diajarkan sebelum wafatnya Rasul ‘alaihish shalatu wa salam. Dan jika dia bukan bagian dari kesempurnaan agama ini maka tentunya dia bukan termasuk ajaran agama karena Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian.” Barang siapa yang mengklaim acara maulid ini termasuk kesempurnaan agama dan ternyata ia terjadi setelah wafatnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sesungguhnya ucapannya itu mengandung pendustaan terhadap ayat yang mulia ini. Dan tidaklah diragukan lagi kalau orang-orang yang merayakan kelahiran Rasul ‘alaihis shalatu was salam hanya bermaksud mengagungkan Rasul ‘alaihis shalaatu was salaam. Mereka ingin menampakkan kecintaan kepada beliau serta memompa semangat agar tumbuh perasaan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui diadakannya perayaan ini. 

Dan itu semua termasuk perkara ibadah. Kecintaan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah. Bahkan tidaklah sempurna keimanan seseorang hingga dia menjadikan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, anaknya, orang tuanya dan bahkan seluruh umat manusia. Demikian pula pengagungan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk perkara ibadah. Begitu pula membangkitkan perasaan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga termasuk bagian dari agama karena di dalamnya terkandung kecenderungan kepada syariatnya. Apabila demikian maka merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah serta untuk mengagungkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu bentuk ibadah. Dan apabila hal itu termasuk perkara ibadah maka sesungguhnya tidak diperbolehkan sampai kapan pun menciptakan ajaran baru yang tidak ada sumbernya dari agama Allah. Oleh sebab itu merayakan maulid Nabi adalah bid’ah dan diharamkan.

Kemudian kami juga pernah mendengar bahwa di dalam perayaan ini ada kemungkaran-kemungkaran yang parah dan tidak dilegalkan oleh syariat, tidak juga oleh indera maupun akal sehat. Mereka bernyanyi-nyanyi dengan mendendangkan qasidah-qasidah yang di dalamnya terdapat ungkapan yang berlebih-lebihan (ghuluw) terhadap Rasul ‘alaihish sholaatu was salaam sampai-sampai mereka mengangkat beliau lebih agung daripada Allah –wal ‘iyaadzu billaah-. Dan kami juga pernah mendengar kebodohan sebagian orang yang ikut serta merayakan maulid ini yang apabila si pembaca kisah Nabi sudah mencapai kata-kata “telah lahir Al-Mushthafa” maka mereka pun serentak berdiri dan mereka mengatakan bahwa sesungguhnya ruh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir ketika itu maka kita berdiri demi mengagungkan ruh beliau. Ini adalah tindakan yang bodoh. Dan juga bukanlah termasuk tata krama yang baik berdiri ketika menyambut orang karena beliau tidak senang ada orang yang berdiri demi menyambutnya. Dan para sahabat beliau pun adalah orang-orang yang paling dalam cintanya kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kaum yang lebih hebat dalam mengagungkan beliau daripada kita. Mereka itu tidaklah berdiri tatkala menyambut beliau karena mereka tahu beliau membenci hal itu sementara beliau dalam keadaan benar-benar hidup. Lantas bagaimanakah lagi dengan sesuatu yang hanya sekedar khayalan semacam ini?

Bid’ah ini -yaitu bid’ah Maulid- baru terjadi setelah berlalunya tiga kurun utama. Selain itu di dalamnya muncul berbagai kemungkaran ini yang merusak fondasi agama seseorang. Apalagi jika di dalam acara itu juga terjadi campur baur lelaki dan perempuan dan kemungkaran-kemungkaran lainnya. (Diterjemahkan Abu Muslih dari Fatawa Arkanil Islam, hal. 172-174).
***
Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
والله أعلمُ بالـصـواب
 


Read more

Srokol/Mahallul Qiyam atau Berdiri Penghormatan Pada Ritual Maulid Nabi

0 komentar
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Di dalam ritual maulid (UlangTahun/B'Day) Nabi,ada namanya ritual Srokol/Mahallul Qiyam yaitu berdiri penghormatan,untuk menghormati arwah Nabi yg dipercaya sedang menghadiri dan menyaksikan acara tersebut,dengan membaca "Yaa Nabi Salam 'alaika..Yaa Rosul salam 'alaika..dst" secara koor/dikomandoi seperti paduan suara ala nasr...ani.

Sebenarnya ritual semacam itu yaitu berdiri untuk menghormati Nabi adalah suatu perbuatan yg diingkari oleh Nabi dan para sahabatnya,sebagaimana yg dikatakan Anas bin Malik
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

عن أنس قال : لَمْ يَكُنْ شَخْصٌ أَحَبّ إِليهم مِنْ رسولِ الله صَلَّى اللهُ عليه وَسَلَّم قال وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُوْمُوا لِمَا يَعْلَمُوْنَ مِنْ كَرَاهِيَتِهِ لَذَلِكَ


Anas bin Malik berkata, “Tidak seorangpun di dunia ini yang lebih mereka (para sahabat) cintai melebihi Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, namun jika mereka melihat Rasulullah mereka TIDAK BERDIRI karena mengetahui bahwa Rasulullah MEMBENCI akan hal itu” (HR At-Thirmidzi no 2763, Ibnu Abi Syaibah dalam musonnafnya (5/234), dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah (1/698))

Berkata Imam An-Nawawi rahimahullah : “…Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam khawatir akan menimpa para sahabat fitnah jika mereka terlalu berlebih-lebihan dalam mengagungkan dirinya, maka beliau MEMBENCI jika para sahabat BERDIRI dikarenakan akan hal ini sebagaimana sabda beliau shalallahu 'alaihi wa sallam :


 لا تُطْرُوْنِي

“Janganlah kalian terlalu berlebih-lebihan kepadaku…”
(Fathul Bari 11/64, syarh hadits no 6262)


والله أعلمُ بالـصـواب


Read more

AWAS Dalil-dalil Palsu dan Qoul Ulama Palsu TENTANG Maulid Nabi

0 komentar
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


AWAS Dalil-dalil Palsu dan Qoul Ulama Palsu TENTANG Maulid Nabi yg di nisbatkan pada kitab Imam Ibnu Hajar Al Haitami Asy Syafi’I,,( كتابه النعمة الكبرى على العالم في مولد سيد ولد آدم)

berikut Atsar Palsu dan Qoul Ulama Palsu tanpa sanad sama sekali :





وبسندي المتصل إليه قال أبو بكر الصديق رضي الله عنه : من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم كان رفيقي في الجنة

Abu bakar shiddiq berkata : Barangsiapa menafkahkan uangnya untk membaca maulid nabi, maka ia menjadi kawanku dalam surga

وقال عمر رضي الله عنه : من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد أحيا الإسلام
Umar berkata : Barangsiapa membesarkan maulid nabi maka ia telah menghidupkan islam


وقال عثمان رضي الله عنه : من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم فكأنما شهد غزوة بدر وحنين
Utsman berkata : Barangsiapa menafkahkan uangnya untuk membc maulid nabi, maka seolah-olah ia ikut perang badar dan hunain


وقال علي رضي الله عنه : من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم وكان سببا لقراءته لا يخرج من الدنيا إلا بالإيمان ويدخل الجنة بغير حساب
Ali berkata : Barangsiapa membesarkan maulid nabi, dan adalah ia sebab membaca maulid itu tadi, maka tidak keluar ia dari dunia melainkan dengan iman dan masuk surga tanpa hisab


وقال الحسن البصري رضي الله عنه : وددت لو كان لي مثل جبل أحد ذهبا فأنفقته على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم
Hasan bashri berkata : Aku bercita-cita jika aku punya emas sebesar gunung uhud, maka aku nafkahkan buat pembacaan maulid nabi


وقال جنيد البغدادي قدس الله سره : من حضر مولد النبي صلى الله عليه وسلم وعظم قدره فقد فاز بالإيمان
Junaid albagdadi berkata : Barangsiapa menghadiri maulid nabi dan membesarkan nya, maka ia beruntung


وقال الإمام الشافعي رحمه الله : من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءته بعثه الله يوم القيامة مع الصادقين والشهداء والصالحين ويكون في جنات النعيم
Imam Syafi'i berkata : Barang siapa mengumpulkan saudara-saudaranya untuk membaca maulid nabi, dan menyediakan makanan dan tempatnya, berbuat kebaikan dan ia ikhlas dalam membaca maulid itu, maka Allah bangkitkan ia bersama para syuhada, sholihin dan masuk surga


وقال الإمام جلال الدين السيوطي في كتابه شرح الشمائل : مامن بيت أو مسجد أو محلة قرئ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم إلا حفت الملائكة ذلك البيت أو المسجد أو المحلة وصلت الملائكة على أهل ذلك المكان وعمهم الله تعالى بالرحمة والرضوان
Imam jalaluddin sayuti berkata : Tidak ada rumah, mesjid dan tempat-tempat yang dibaca orang disana maulid nabi, melainkan malaikat mendatangi rumah, atau masjid atau tempat itu, dan mereka mendoakan orang-orang yang ditempat itu, dan Allah berikan rahmat dan keridoanNya kepada mereka-mereka.


قال الإمام عبد الرحمن بن إسماعيل الشهير بأبي شامة شيخ النووي
Berkata imam Abdurrahman bin ismail yang dikenal dengan Abu syamah beliau adalah guru imam Nawawi
:
ومن أحسن ما ابتدع في زماننا
Sebagian dari sebagus-bagusnya yang dibid'ah kan pada zaman sekarang
ما يفعل كل عام في اليوم الموافق ليوم مولده صلى الله عليه وسلم
Yaitu peringatan yg dikerjakan tiap tahun bertepatan pada hari lahirnya Rasulullah Shollallahu Alaih Wasallam
من الصدقة والمعروف وإظهار الزينة والسرور
Seperti bershodaqah, berbuat baik, dan menampakkan kebagusan dan kegembiraan
فإن ذلك مع ما فيه من الإحسان إلى الفقراء

Karena bahwasanya itu disertai apa saja yang ada didalamnya dari berbuat baik kepada faqir miskin


***---------------------------------------------------------------------------------------------------***

# Semua Atsar sahabat dan Qoul Ulama diatas diambil dari kitab seorang Sufi yaitu Yusuf Bin Ismail An Nabahaany (1849–1932 M) Yakni Seorang Sufi dan juga seorang tradisionalis dalam Kitabnya yg majhul “Jawahir al-Bihar fi Fada’il al-Nabiyy al-Muhtar”
Yaitu kitab yg menjelaskan kitab Ibnu Hajar Al Haitami yaitu (
كتابه النعمة الكبرى على العالم في مولد سيد ولد آدم),,tapi di bumbuhi dengan atsar dan qoul ulama TANPA SANAD SAMA SEKALI..

# Awas Bahaya Dalil dan Hujjah Palsu !!! dan Jangan Tanya yg Aslinya,karena Dalil Maulid Nabi memang TIDAK ADA..

والله أعلمُ بالـصـواب


Read more