• Manhaj Salaf

    Manhaj Salaf Manhaj Kebenaran

    Risalah Manhaj Salaf, Sebuah metodologi dalam beragama

  • As Sunnah

    Apa dan bagaimana Sunnah?

    Golongan apa dan siapa Ahli Sunnah

  • Al Jamaah

    Al Jamaah

    Penjelasan Ilmiyyah Al jamaah

  • Risalah Bidah

    Bahayanya Bidah

    Memahami Bidah secara Ilmiyyah dan Tepat

  • Faham Sesat

    Faham Menyimpang

    Studi Ilmiyyah Pemikirn faham dan Ideologi Menyimpang Islam

  • Wahabi

    Wahabi

    Artikel Konferehensif tentang Wahabi dan Dakwah Syekh Abdul Wahab

Tampilkan postingan dengan label ahlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ahlak. Tampilkan semua postingan

Akibat DENGKI, Menuai Petaka pada Diri Sendiri

0 komentar
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Sifat yang sangat tercela akan tetapi banyak menjangkiti kaum hawa, bahkan menjangkiti kebanyakan manusia, hingga menjangkiti sekalipun para penuntut ilmu, kecuali para penuntut ilmu yang dipenuhi sifat kejujuran. Sifat yang Allah Ta’aala telah peringatkan darinya. Sifat yang Allah perintahkan untuk dibersihkan dari setiap individu. Sifat apa itu? Yaitu hasad. Karena hasad adalah termasuk dari sejelek-jelek sifat. Termasuk sifat besar syaithon dan bala tentaranya. Adalah sifat orang-orang yang telah mendapatkan kemurkaan Allah yaitu orang-orang Yahudi, firman Allah Ta’aala :
 
وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ۖ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Sebahagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, Karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(Al.Baqoroh :109).

Meraka (yahudi) dengki terhadap Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam atas apa yang telah diberikan Allah kepada beliau dari kenabian dan kedudukan yang besar, sehingga menjadikan sebab kekufuran orang-orany Yahudi terhadap apa yang dibawa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dalam keadaan mereka mengetahui tentang kejujuran dan kebenaran apa yang dibawa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan dalam keadaan mereka meyakini bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam adalah seorang Nabi, hingga terus menerus ada pada orang-orang Yahudi yang senantiasa mendengki kepada umat ini karena umat ini telah Allah berikan kenikmatan berupa keimanan yang benar dan hidayah.

Hasad adalah seseorang tidak suka adanya satu kenikmatan itu sampai kepada yang selain darinya, dan berangan agar nikmat tersebut hilang dari orang lain. Hasad banyak terjadi terkait urusan dunia, dari harta, kedudukan, keadaan seseorang dan selain dari pada itu. Bahkan yang lebih berbahaya adalah terdapat pada kalangan para pencari ilmu, kecuali yang dirahmati Allah Ta’aala.

Dengan adanya hasad, seseorang berarti tidak menerima ketentuan Allah Ta’aala, karena ia memandang bahwa orang lain seakan tidak berhak mendapatkan dari apa yang telah diberikan oleh Allah kepadaya dari berbagai keutamaan, dan ia juga berpandangan bahwa ia lebih berhak untuk mendapatkan dari apa yang telah didapatkan oleh saudaranya tersebut.

Dengan hasad seseorang terjatuh dalam pengingkaran terhadap hikmah Allah pada pengaturanNya terhadap makhlukNya, karena Allah Ta’aala itu memberi atau mencegah adalah dengan hikmah yang besar.
Dengan hasad menjadikan kebencian sesama manusia, karena seorang yang hasad itu pasti tumbuh pada dirinya kebencian kepada yang lain.
 Rasul kita bersabda :
Janganlah kalian saling iri, janganlah kalian saling memata-matai saudaranya, janganlah kalian saling membenci dan janganlah kalian saling membelakangi, dan janganlah sebagian kalian membeli barang yang telah dibeli oleh sebagiannya, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang menjaga tali persaudaraan. (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah –radziallahu’anhu).

Terjadi pembunuhan di antaranya adalah kerusakan yang diakibatkan karena hasad, firman Allah Ta’aala :
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam menurut yang Sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain. Berkata salah satu keduanya kepada yang lain: “Aku pasti membunuhmu!”. Yang selainnya Berkata: “Sesungguhnya Allah Hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.(Al-Maidah : 27)

Hasad telah mengakibatkan seseorang menolak kebenaran ketika kebenaran itu datang dari orang yang telah ia dengki kepadanya. Dengan hasad pula telah menjadikan sebab seseorang terus menerus di atas kebatilan, sebagaimana sifat yang ada pada Iblis yang Allah telah melaknatnya.
Dengan Hasad memunculkan sifat jelek yang lain yaitu ghibah, namimah, dan selainnya. Terlebih kalangan orang jahil, ketika ia mengungkapkan kepada yang selainnya tentang kedengkian kepada saudaranya, maka pada akhirnya ia terjatuh dalam dua perkara yang sangat tercela tersebut yaitu ghibah dan namimah.
Adanya hasad menjadikan seseorang senantiasa di atas kegamangan, kegalauan dan kesedihan, karena di saat keutamaan Allah diberikan kepada saudara yang lain sedangkan ia tidak menginginkan hal tersebut terjadi dalam keadaan ia juga tidak mampu untuk mencegah dan menghalanginya. Dan selain dari pada itu sangat banyak untuk disebutkan tentang kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh sifat hasad atau kedengkian.

Sehingga apabila seseorang mendapati sifat tercela tersebut menjangkiti pada dirinya, berupayalah dengan kesungguhan untuk segera mengilangkannya, diantaranya adalah dengan senantiasa mengingat kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh sifat tercela tersebut, apakah kerusakan kaitannya dengan urusan dunianya, terlebih besar yaitu kerusakan yang menyangkut urusan agamanya. Dan hendaklah ia senantiasa ingat bahwa segala urusan itu di Tangan Allah Ta’aala Yang Maha luas RahmatNya dan Allah Ta’aala adalah Yang Maha memiliki seluruh keutamaan yang besar. Dan hendaklah setiap individu untuk senantiasa memohon kepada Allah Ta’aala semata atas segala keutamaan. Firman Allah Ta’aala :
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِن فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (An-Nisaa : 32).

Setelah kita mengetahui bahaya yang dapat ditimbulkan oleh penyakit hasad, maka selanjutnya kita akan membahas apa yang dapat kita lakukan ketika penyakit hasad ini timbul di dalam hati.

1. Mendiamkan dan menyembunyikannya

Apabila penyakit itu mulai timbul di dalam diri kita, hendaklah kita menyembunyikan dan mendiamkan penyakit tersebut di dalam hati kita. Janganlah sekali-kali kita menampakkannya di hadapan orang lain, karena hal tersebut akan menyulut api kehancuran yang dapat mendera di tubuh kaum muslimin.

2. Berdo’alah kepada Allah agar menghilangkan hasad dari dalam hati kita

Sebagaimana do’a yang telah diajarkan Allah di dalam Al Qur’an (yang artinya), 
“Ya Rabb Kami, ampunilah kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr : 10)

Allah telah menuntun kita untuk berdo’a kepadaNya dalam ayat di atas untuk menghilangkan hasad yang ada di dalam diri kita. Karena bisa saja di saat kita lengah, setan memanfaatkannya untuk menghancurkan diri kita.

3. Berusaha ridho dengan takdir Allah

Allah telah mengajarkan kita untuk ridho dengan semua yang telah Ia tetapkan dengan firman-Nya (yang artinya), “Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al Furqan : 2)

Maka marilah wahai saudaraku seiman, kita tanamkan rasa qana’ah di dalam diri kita, sehingga kita tidak merasa dengki atau hasad atas apa yang di miliki oleh orang lain.

4. Jadikan surga dan ridha Allah sebagai cita-cita tertinggi kita

Hal ini dimaksudkan agar kita tidak memiliki hasad dan dengki kepada nikmat yang dimiliki orang lain. Maka apakah lagi yang kita harapkan seandainya kita mengetahui kenikmatan-kenikmatan yang ada di surga? Tentu kita tidak akan lagi menginginkan kenikmatan yang dimiliki oleh orang lain di dunia ini. Namun sedikit dari kita mengetahui hal tersebut, sehingga kita lebih menginginkan apa yang ada di dunia ini dan tidak menginginkan apa yang ada di surga. Allah berfirman (yang artinya),

“Dan janganlah engkau tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan kesenangan itu. Dan karunia Tuhan-mu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha : 131)

Ayat ini telah memberikan bukti kepada kita, jikalau seandainya kita mengetahui apa yang telah Allah sediakan di dalam surga, niscaya kita tidak mungkin ingin harta benda yang ada di dunia ini.
Maka marilah kita jauhkan sifat hasad di dalam diri kita, qona’ah-lah terhadap apa yang telah kita miliki, dan jadikanlah kenikmatan surga sebagai tujuan kita hidup di dunia.

والله أعلمُ بالـصـواب


Read more

Bahayanya Menyebar berita Isyu dan dusta

0 komentar
  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Oleh : oleh Asy-Syaikh Husain bin Abdil Aziz Alu Asy-Syaikh hafizohulloh (Imam Masjid Nabawi dan Hakim di Pengadilan Kota Madinah)

Di tengah perkembangan media berita disertai dengan adanya perubahan-perubahan sosial yang disaksikan oleh alam, demikian pula perkembangan dan perubahan yang beraneka ragama pada beragam sisi kehidupan, maka muncullah fenomena sosial yang berbahaya… fenomena "isu", yaitu tersiarnya dan tersebarnya berita yang tidak valid di tengah masyarakat dan individu-individu tanpa sandaran kebenaran yang jelas, akan tetapi hanya bersandar kepada penukilan semata dalam kondisi yang tidak jelas, rancu, dan penuh keraguan. Maka mengakibatkan munculnya ketakutan di kalangan masyarakat serta keguncangan, yang tentunya mengakibatkan dampak yang buruk bagi individu dan masyarakat bahkan negara. Karenanya isu-isu tersebut memberikan dampak negatif dan akibat yang buruk. Hal ini tidaklah mengherankan, isu-isu tersebut muncul karena banyak sebab dan tumbuh dibalik banyak faktor, diantaranya yang paling berbahaya adalah bahwa isu-isu tersebut merupakan sarana yang dimanfaatkan oleh musuh untuk memerangi umat Islam, memerangi agama dan dunia umat Islam, stabilitas keamanan, perekonomian, ketenteraman umat Islam, baik dalam suasana perang maupun suasana damai dengan para musuh.

Isu-isu disebarkan pada waktu yang pas, dan ditanamkan di tanah yang subur serta pada kesempatan yang cocok, untuk merealisasikan kepentingan-kepentingan busuk dan tujuan-tujuan yang kotor. Kerenanya isu merupakan modalnya orang-orang munafiq yang Allah berfirman tentang mereka :

لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلا قَلِيلا (٦٠)مَلْعُونِينَ أَيْنَمَا ثُقِفُوا أُخِذُوا وَقُتِّلُوا تَقْتِيلا (٦١)

"Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam Keadaan terlaknat. di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya" (QS Al-Ahzaab : 60-61)

          Dari sini maka betapa banyak isu yang menggerogoti tubuh umat ini serta melemahkan berbagai aktifitasnya, serta mewujudkan harapan musuh untuk memberikan kemudorotan kepada kaum muslimin dan mengganggu kemaslahatan kaum muslimin, juga mendukung terwujudnya tujuan buruk mereka. Karenanya syari'at yang mulia datang untuk memberikan pengarahan yang jelas untuk menjaga masyarakat dan melindunginya dari isu-isu yang tidak benar, serta tersiarnya berita-berita dusta, maka syari'at memerintahkan untuk menjaga lisan dan menahan pena-pena agar tidak menulis dan menyatakan perkara-perkara yang tidak ada bukti kebenarannya. Allah berfirman :

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا (٣٦)

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS Al-Isroo' : 36)

Dalil-dalil telah memperingatkan terlarangnya dusta dengan berbagai macam modelnya, diantaranya adalah ikut menyebarkan isu padahal telah diketahui tidak benarnya isu tersebut, atau ikut menyebarkan berita yang dibangun diatas dugaan dan tebakan/ramalan. Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (١١٩)

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS At-Taubah : 119)

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda ;

وإن الكذب يهدي إلى الفجور وإن الفجور يهدي إلى النار

"Dan sesungguhnya kedustaan mengantarkan kepada perbuatan fujur dan perbuatan fujur mengantarkan kepada neraka" (HR Al-Bukhari dan Muslim)

          Saudara-saudaraku se Islam, penyebaran berita-berita tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu terlarang dalam syari'at, serta dibenci menurut tabi'at dan tradisi. Sungguh betapa banyak penyebaran berita-berita yang kosong dari bukti kebenarannya telah menimbulkan kemudorotan yang besar, dan melahirkan keburukan yang besar. Karenanya datang larangan yang tegas dalam menyebarkan suatu berita yang seorang muslim tidak memiliki sandaran yang menunjukkan kebenarannya serta dasar yang benar dalam menyebarkannya. Allah berfirman

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (١٨)

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. (QS Qoof : 18)

Nabi kita shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

"Cukuplah seseorang telah berdosa jika menyampaikan seluruh yang ia dengar"

Kaum muslimin sekalian, waspadalah…!, waspadalah..! jangan sampai kalian ikut berpartisipasi dalam menyebarkan berita-berita yang tidak ada dasar akan kebenarannya, dan tanpa ilmu akan benarnya berita tersebut, karena hal itu termasuk dari ikut menyebarkan kedustaan serta ikut menyampaikan kedustaan. Allah berfirman tentang sifat-sifat para hambaNya yang bertakwa:

وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ (٧٢)

Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kedustaan. (QS Al-Furqoon : 72)

Dan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim

ألا أخبركم بأكبر الكبائر قالوا بلى يا رسول الله قال الإشراك بالله وعقوق الوالدين وكان متكئا فجلس فقال ألا وقول الزور وشهادة الزور فما زال يكررها حتى قلنا ليته سكت

Maukah aku kabakan kepada kalian tentang dosa terbesar dari dosa-dosa besar?. Mereka (para sahabat) berkata ; "Tentu wahai Rasulullah". Beliau berkata ; "Berbuat syirik kepada Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua". Tadinya Nabi dalam kondisi berbaring maka lalu beliaupun duduk kemudian berkata : "Dan perkataan dusta, bersaksi dusta", beliau terus mengulang-ngulangnya hingga kami berkata : "Seandainya jika beliau diam"

Maka menyebarkan berita yang tidak benar serta menyebarkan isu-isu yang tidak ada tali kekangnya merupakan bentuk kedustaan kepada kaum muslimin serta menipu mereka. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده

"Seorang muslim yang sejati adalah yang kaum muslimin selamat dari keburukan lisan dan tangannya" (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Menyebarkan berita kosong dan isu termasuk "qiila wa qoola" (katanya dan katanya) merupakan sikap yang ditolak dalam Islam dalam kondisi apapun dan dalam model apapun. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang "katanya dan katanya", dalam lafal Muslim dari hadits Abu Huroiroh

ويكره لكم قيل وقال وكثرة السؤال وإضاعة المال

"Dan Rasulullah membenci dari kalian "Katanya dan katanya", banyak bertanya, dan membuang-buang harta"

Maka jagalah lisanmu wahai saudaraku, jagalah penamu dan tulisan-tulisanmu dari menyebarkan berita-berita yang tidak ada bukti kebenarannya, maka engkau akan selamat dan mendapatkan pahala. Jika tidak, maka engkau akan terjerumus dalam dosa yang nyata dan kedustaan yang besar …!

Dalam sunan Abu Dawud dengan sanad yang shahih bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

بِئْسَ مَطِيَّةُ الرَّجُلِ زَعَمُوْا

"Seburuk-buruk kebiasaan seseorang adalah menjadikan perkataan "persangkaan mereka" sebagai kendaraannya"

Dan dalam shahih Muslim

من حدث بحديث وهو يرى أنه كذب فهو أحد الكاذبين

"Barang siapa yang menyampaikan suatu pembicaraan dan ia menyangka bahwa pembicaraan tersebut adalah dusta maka ia adalah salah satu dari dua pendusta"



Saudara-saudaraku se Islam, sesungguhnya sikap seorang muslim yang benar dan metode yang tepat dalam menghadapi isu-isu berita-berita kosong, berita-berita yang bermacam-macam yang tidak diketahui kebenarannya serta tidak diyakini kevalidannya, sikap yang wajib ditempuh adalah mengikuti petunjuk Allah dan RasulNya. Allah berfirman

وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (١٤)إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ (١٥)

Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal Dia pada sisi Allah adalah besar. (QS AN-nuur : 14-15)

Allah berfirman:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الأمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الأمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلا قَلِيلا (٨٣)

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri). kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu). (QS An-Nisaa : 83)

Sikap tersebut adalah mengecek dan mencari kejelasan dan tidak tergesa-gesa untuk menyebarkan berita yang tidak ada sandaran kebenarannya dengan memperhatikan kaidah mewujudkan kemaslahatan dan menolak kemudorotan dalam menyebarkan berita dan menyiarkannya kepada masyarakat umum. Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (٦)

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS Al-Hujuroot : 6)

Dan dalam sabda Nabi yang shahih :

التأني من الله والعجلة من الشيطان

"Ketenangan/tidak tergesa-gesa dari Allah dan ketergesaan dari syaitan"

Al-Hasan berkata : المسلم وقاف حتى يتبين  "Seorang muslim berhenti hingga ia mencari kejelasan". Dan diantara bentuk keselamatan yang besar dan keamanan yang sempurna adalah selamatnya seorang muslim dari tenggelam dalam menyebarkan berita-berita dusta dan isu-isu yang tidak benar.

          Kemudian ditekankan kepada masyarakat muslim dalam menghadapi isu-isu berita tentang saudara-saudara mereka sesama muslim yang berita tersebut tidak ada bukti kebenarannya, terlebih lagi berita tentang orang yang telah dikenal kebaikan dan keutamannya, hendaknya mereka beradab dengan adab al-Qur'an dan mereka mengikuti petunjuk Al-Qur'an yang mulia. Allah berfirman :

لَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ (١٢)

Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata." (QS An-Nuur : 12)

وَلَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ (١٦)

Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah Dusta yang besar." (QS An-Nuur : 16)

          Wajib bagi seorang muslim untuk menjauhkan diri dari menyebarkan berita-berita buruk demikian juga kabar-kabar yang membongkar aib-aib hingga ia selamat dari dosa dan kesalahan yang besar. Allah berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ (١٩)

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang Amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui. (QS AN-Nuur : 19)

Para ulama berkata : Ayat ini merupakan dasar hukum tentang membatasi perbuatan-perbuatan keji dengan berbagai modelnya untuk tidak disebarkan agar tidak terlihat oleh mata dan tidak terdengar oleh telinga serta agar tidak menjadi buah bibir masyarakat


          Sesungguhnya fenomena tersebarnya isu-isu di masyarakat merupakan penyakit yang bisa mengancam stabilitas masyarakat. Di masa sekarang penyebaran isu telah menjadi tindakan yang terorganisir yang dibangun di atas perencanaan yang matang sesuai dengan tujuan-tujuan tertentu, melalui media-media sehingga tersebar dengan cepat sebagaimana nyala api pada kayu yang kering dan cepatnya cahaya dan gelombang, melalui media-media komunikasi modern.

Karenanya wajib bagi masyarakat untuk bersatu padu dalam memerangi isu-isu dan mematikannya sesuai dengan pengarahan Islami yang telah lalu penjelasannya.

          Dan wajib bagi media-media untuk konsisten terhadap timbangan yang benar dalam menyebarkan berita yang benar dan kroscek terhadap berita yang akan disebarkan. Para pekerja media-media tersebut akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah tentang umat, mereka diberi amanah dalam membawa pemikiran masyarakat muslim, serta mereka berpengaruh dalam stabilitas keamanan masyarakat. Barang siapa yang mengabaikan amanah maka ia akan merugi. Allah berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٢٧)

27. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS Al-Anfaal : 27)

Saudara-saudaraku se Islam, termasuk amalan yang terbaik dan tersuci adalah bersholawat kepada Nabi yang termulia, Allahumma sholli 'alaa Muhammad…

Ya Allah perbaikilah keadaan kami dan keadaan kaum muslimin, Ya Allah hilangkanlah kesedihan… hilangkanlah penderitaan…, Ya Allah selamatkanlah hamba-hambaMu dari segala fitnah dan bencana…

Ya Allah hancurkanlah musuh-musuhMu sesungguhnya mereka tidak akan melemahkanMu, wahai Yang Maha Agung, Ya Allah jagalah saudara-saudara kami di manapun mereka berada, Ya Allah jadilah Engkau sebagai penolong bagi mereka wahai Yang Maha Perkasa dan Maha Kuat, Ya Allah berilah taufiqMu kepada pelayan dua kota suci, arahkanlah ia kepada perkara yang Engkau cintai dan ridhoi, Ya Allah tolonglah agama ini dengannya, dan tinggikanlah kaum muslimin dengannya…. Ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimat, baik yang hidup di antara mereka maupun yang telah meninggal, Ya Allah berikanlah kebaikan dunia kepada kami dan juga kebaikan akhirat serta jagalah kami dari adzab neraka.

والله أعلمُ بالـصـواب


Read more

Hikmah Ilahi di Balik Musibah yang Melanda

0 komentar
“Tiada satu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Para pembaca yang dirahmati Allah, belakangan ini negeri kita Indonesia diguncang berbagai musibah.

Rangkaian bencana, gempa, tsunami, gunung meletus, banjir, dan lain sebagainya telah menelan banyak korban, baik nyawa maupun harta benda. Sedangkan yang selamat, tidak sedikit dari mereka yang harus tinggal di pengungsian, bahkan terpisahkan dengan keluarga dan karib kerabat.



Beberapa kalangan pun ramai mengeluarkan statement-statement terkait dengan sebab terjadinya musibah yang melanda tersebut. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa musibah merupakan peristiwa alam semata, tidak ada kaitannya dengan agama. Sebagian lainnya mengatakan bahwa musibah merupakan ketentuan dan takdir Allah Subhanallahu wa Ta’ala yang tidak ada kaitannya dengan dosa. Ada lagi yang mengatakan bahwa musibah merupakan kejadian untuk membuat takut manusia dan tiada kaitannya dengan dosa. Ada juga yang menghubungkannya dengan perkara-perkara gaib. Dan banyak lagi kepentingan-kepentingan duniawi dalam mengomentari terjadinya musibah tersebut. Hanya kepada Allah saja kita memohon petunjuk. Untuk menjawab semua itu, mari kita simak keterangan dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, agar kita tidak semakin jauh dari bimbingan Allah dan Rasul-Nya.
Para pembaca yang dirahmati Allah, ketahuilah bahwa semua peristiwa yang terjadi di muka bumi ini, termasuk musibah yang melanda tersebut bukanlah murni peristiwa alam semata. Ia merupakan ketentuan (takdir) dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman:
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Tiada satu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadid: 22)
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada satu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghabun: 11)

Dengan keadilan dan kebijaksanaan-Nya Allah takdirkan berbagai musibah tersebut sebagai peringatan (menciptakan rasa takut) bagi para hamba (terkhusus yang durhaka) agar sadar dan kembali kepada agama Islam yang lurus. Sebagaimana firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (artinya):
وَإِن مِّن قَرْيَةٍ إِلَّا نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَوْ مُعَذِّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا ۚ كَانَ ذَٰلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا(Üß)
وَمَا مَنَعَنَا أَن نُّرْسِلَ بِالْآيَاتِ إِلَّا أَن كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ ۚ وَآتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا بِهَا ۚ وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا(Üà)
“Tidak ada satu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami adzab (penduduknya) dengan adzab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh). Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mu’jizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi tanda itu melainkan untuk menakuti.” (Al-Isra`: 58-59)
Para pembaca yang dirahmati Allah, sudah menjadi ketetapan ilahi (sunnatullah) bahwa tidaklah sebuah bencana ditimpakan kepada penduduk suatu negeri melainkan karena dosa dan kezhaliman mereka. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahankesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)
وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ
“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Hud: 117)
Bisa juga karena mereka telah jauh dari Allah dan syari’at-Nya yang mulia sehingga Allah turunkan musibah tersebut sebagai peringatan. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman :
أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَّرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ
“Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian merekatidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pengajaran?” (At-Taubah: 126)
Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman pula mengisahkan tentang Nabi Yunus ‘alaihis salam:
فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ
“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (Yunus: 98)
Para pembaca yang mulia, sesungguhnya di balik musibah terdapat hikmah dan pelajaran berharga. Ia berfungsi sebagai nasehat agar kita selalu introspeksi diri atas berbagai dosa dan kezhaliman yang ada. Demikian pula ia sebagai peringatan bahwa kehidupan dunia ini tak pernah lengang dari ujian dan cobaan. Sehingga manakala hal itu terjadi tiada jalan keluar kecuali kembali kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala dengan bertaubat dan memohon ampun kepada- Nya, bersabar, mengerjakan shalat, serta amalan-amalan shalih lainnya. Tidak dengan kembali kepada petuah-petuah dukun, paranormal, ataupun orang pintar, karena yang demikian itu diharamkan dalam agama Islam yang mulia ini. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
وَلَا تَقُولُوا لِمَن يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِن لَّا تَشْعُرُونَ
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah:153-157)
Para pembaca yang dirahmati Allah, musibah benar-benar mengingatkan kita akan kekuasaan Allah Subhanallahu wa Ta’ala, sehingga tidak boleh bagi kita merasa aman dari makar (adzab) Allah. Allah Maha Kuasa untuk menurunkan musibah (adzab) saat manusia terlelap tidur. Sebagaimana dalam firman- Nya :
أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ
“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?” (Al-A’raf: 97)
Bahkan Maha Kuasa pula untuk menurunkannya saat mereka sedang bermain di waktu pagi. Sebagaimana dalam firman-Nya :
أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ
“Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu mataharisepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?” (Al-A’raf: 98)
Siapapun dari kita pasti mengidamkan kehidupan bahagia, aman, sentosa, bergelimang rahmat, dan jauh dari musibah (adzab). Bagaimanakah agar kehidupan yang bahagia tersebut dapat terwujud?
Untuk mengetahui jawabannya, simaklah firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala berikut ini:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (Al-A’raf: 96)
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orangorang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. (Dengan syarat) mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)
Demikianlah, keimanan yang jauh dari kesyirikan, ketaqwaan yang jauh dari kemaksiatan, dan amal shalih yang berkesinambungan dapat menghindarkan penduduk suatu negeri (dengan izin Allah) dari musibah (adzab) yang menakutkan sehingga menjadi aman sentosa. Bahkan akan menjadi sebab turunnya barakah dari langit dan bumi, istiqamah diatas agama, dan berkuasa di muka bumi.
Semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk kembali kepada Allah, berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah (ajaran) Rasul-Nya, beramal shalih secara berkesinambungan, berpegang teguh dengan keimanan yang jauh dari kesyirikan, bid’ah, khurafat, serta menjaga ketakwaan yang jauh dari berbagai dosa dan kemaksiatan.
Akhir kata, semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala melindungi negeri yang kita cintai ini, membimbing rakyat dan pemimpinnya kepada jalan yang lurus. Amin Ya Mujibas Sa`ilin…
والله أعلمُ بالـصـواب
=====================================================================
Sumber : 
Buletin Islam Al-Ilmu Edisi No: 45 / XII / VIII / 1431 H
Sumber: http://www.buletin-alilmu.com/hikmah-ilahi-di-balik-musibah-yang-melanda
http://salafy.or.id/blog/2010/12/31/hikmah-ilahi-di-balik-musibah-yang-melanda/


Read more

Dalil ancaman pendusta

0 komentar


“..Dan bagi mereka azab yang pedih,disebabkan mereka berdusta” (Qs : albaqoroh/2:10)
Dusta merupakan tanda-tanda kemunafikan. Munafik adalah dosa besar yang diancam dengan kekekalan dineraka
حدثنا قبيصة بن عقبة قال: حدثنا سفيان، عن الأعمش، عن عبد الله بن مرة، عن مسروق، عن عبد الله بن عمرو: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (أربع من كن فيه كان منافقا خالصا، ومن كانت فيه خصلة منهن كانت فيه خصلة من النفاق حتى يدعها: إذا اؤتمن خان، وإذا حدث كذب، وإذا عاهد غدر، وإذا خاصم فجر).
Telah menceritakan kepada kami Qabiishah bin ‘Uqbah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Al-A’masy, dari ‘Abdullah bin Murrah, dari Masruuq, dari ‘Abdullah bin ‘Amru : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ada empat tabiat barangsiapa yang ada padanya semua hal itu, maka itu termasuk munafik sejati. Dan barangsiapa yang ada padanya salah satu di antara empat tabiat itu, maka padanya terdapat salah satu tabiat kemunafikan, hingga ia meninggalkannya; yaitu : Apabila dipercaya berkhianat, apabila berkata-kata berdusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila bertengkar berbuat jahat” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 34].




Read more