• Manhaj Salaf

    Manhaj Salaf Manhaj Kebenaran

    Risalah Manhaj Salaf, Sebuah metodologi dalam beragama

  • As Sunnah

    Apa dan bagaimana Sunnah?

    Golongan apa dan siapa Ahli Sunnah

  • Al Jamaah

    Al Jamaah

    Penjelasan Ilmiyyah Al jamaah

  • Risalah Bidah

    Bahayanya Bidah

    Memahami Bidah secara Ilmiyyah dan Tepat

  • Faham Sesat

    Faham Menyimpang

    Studi Ilmiyyah Pemikirn faham dan Ideologi Menyimpang Islam

  • Wahabi

    Wahabi

    Artikel Konferehensif tentang Wahabi dan Dakwah Syekh Abdul Wahab

Tampilkan postingan dengan label fiqh-waqi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiqh-waqi. Tampilkan semua postingan

Inilah fakta Muktamar Internastional DI CHECHNYA

0 komentar

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Segala puji bagi Allah, Maha Penolong hamba-hamba Nya yang beriman, bertauhid dan berdakwah kepada Allah Ta’ala diatas ilmu dan bimbingan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabat terbaiknya, termasuk orang-orang yang meneladani mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:
Di kota Grozny ibukota Chechnya telah berlangsung suatu muktamar dengan mengusung tema



Siapakah Ahlus Sunnah wal Jama’ah – Pernyataan Yang Mendeskripsikan Metodologi Ahlus Sunnah wal Jama’ah Dalam Aspek Aqidah, Fiqh, Tingkah Laku Dan Pengaruh Penyimpangan Berdasarkan Fakta.

Muktamar berakhir pada hari Sabtu, 24 Dzulqo’dah 1437 H bertepatan dengan tanggal 27 Agustus 2016 dengan mencetuskan suatu pernyataan yang memalukan yang disertai dengan beberapa pesan.
Sikap terhadap muktamar naas ini kutulis dalam rangka menerangkan kebenaran kepada manusia dan menelanjangi realita muktamar ini.

Pertama: Muktamar ini diselenggarakan di kota Grozny ibukota Chechnya yang menginduk kepada Federasi Rusia disaat ulama ahlus sunnah wal jama’ah dan para dai penyeru tauhid dihina oleh peserta muktamar, disaat rudal-rudal milik Rusia membombardir saudara-saudara kita di bumi Syam. Namun, tak ada pernyataan yang muncul tentang kebiadaban Rusia dalam muktamar tersebut.

Kedua: Penyelenggara muktamar adalah Presiden Chechnya Ramzan Kadirov yang dikenal memiliki loyalitas tinggi kepada Presiden Rusia Putin, bahkan ia merangkai baris tulisan dalam akun facebook miliknya yang berbunyi “Sejatinya ia merupakan salah satu prajurit Putin, ia dan pasukannya siap mengorbankan hidup mereka demi Putin“. Apakah peserta muktamar menyadari sifat asli orang ini?
Seandainya bukan karena rasa malu dan takut kepada Allah, pasti akan kusertakan salah satu link video yang menampilkan dirinya saat asyik menari bersama para wanita yang berpenampilan menor dalam perayaan ulang tahun Putin.

Ketiga: Ramzan Kadirov adalah seorang sufi yang mengimani khurafat (mitos), ia menyangka dirinya menyimpan sehelai rambut milik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai-sampai ia menggelar perayaan di bandara Grozny untuk menyambut kedatangan sehelai rambut itu dari Uzbekistan.
Ia juga menyangka dirinya menyimpan potongan kain sarung peninggalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang panjangnya mencapai 50 cm.

Berikut ini beberapa potongan video di Youtube yang menerangkan rekam jejak Presiden Chechnya dan penasehatnya:
1. Video pertama menampilkan wawancara televisi melalui jaringan Sky News Arabic: Ia melontarkan tuduhan tentang penghianatan Wahhabiyyah (baca: Ahlus Sunnah) terhadap ajaran Islam. Ia juga menuturkan bahwa pejuang Syria bukanlah pejuang sebenarnya, namun mereka adalah orang-orang yang mencoreng citra Islam.
2. Video kedua menampilkan khurafat yang diimani oleh orang ini. Ia menyangka dirinya menyimpan cangkir peninggalan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya memamerkannya dihadapan publik kemudian menciuminya. Ia juga menyangka dirinya memiliki sehelai rambut milik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menciuminya sambil menangis. Kemudian ia menari bak tarian orang yang hilang akalnya bersama sekelompok orang-orang sufi.
Ia juga pernah menyambut kedatangan Mufti Rezim Basyar Al-Asad yang bernama Hasoun seraya menuturkan: “Semoga Allah melaknat kaum Wahhabi, ayah dan ibu mereka“. Ia bahkan mengklaim dengan penuh kedustaan bahwa kaum Wahhabi-lah yang membunuh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya bersumpah akan membunuh mereka (kaum Wahhabi).
3. Video ketiga menampilkan rekam jejak Sang Penasehat yang juga merangkap jabatan sebagai Kepala Bagian Urusan Keagamaan di Chechnya. Dalam salah satu pidatonya ia menyerukan bolehnya ber-istighatsah kepada selain Allah, (yaitu) ber-istighatsah kepada orang-orang yang sudah mati dan yang masih hidup, bahkan ia menyerang siapapun yang menyatakan bahwa ini adalah perbuatan syirik.
Apakah pantas bagi para peserta muktamar yang notabene dianggap sebagai ulama untuk berterimakasih kepada seorang penipu yang memerangi tauhid beserta ahlinya, lantas mengakhiri pernyataan mereka dengan ucapan terimakasih seraya menuturkan: “Para peserta menyampaikan rasa terimakasih kepada Yang Mulia Presiden Ramzan Kadirov atas jerih payahnya yang penuh berkah dalam berkhidmat kepada Al-Quran Al-Karim dan As-Sunnah Al-Muthahharah“.
Semoga Allah membalas mereka dengan hukuman yang pantas.

Keempat: Saat ini umat Islam hidup dalam keadaan genting. Musuh-musuh Islam mulai menampakkan permusuhan di tiap lini, bahkan sekte sesat Syiah Rafidhah dan pasukan Nasrani yang membenci Islam pun bersekongkol bersama mereka dengan tujuan menghabisi Ahlus Sunnah dengan sebuah busur.
Dunia Islam pun dihebohkan dengan adanya segelintir orang yang mengklaim diri mereka sebagai ulama, yang sebenarnya tidaklah mewakili kecuali hanya diri mereka sendiri, lalu bersatu dibawah naungan penjahat ini (yaitu Ramzan Kadirov).
Mereka tidak berupaya menasehatinya, tidak pula memperingatinya dari hukuman Allah untuknya, sebagai akibat dukungannya terhadap majikannya Putin yang telah menghabisi saudara-saudara kita di Syria (diantara mereka ada kelompok sunni, sufi, asy’ari dan maturidi), bahkan tidak pula menyerukan persatuan kaum muslimin, baik salafinya, sufinya dan asy’arinya untuk melawan Rusia, Nushairiyyah-nya Asad, Shafawiyyah-nya Iran dan kelompok teroris Hizbullat, tidak…, justru merekalah yang menanamkan perselisihan diantara kaum muslimin, bahkan dalam kondisi sulit yang sedang dilalui oleh umat ini.

Kelima: Lahirnya pernyataan muktamar yang berbunyi: “Ahlus sunnah wal jama’ah mereka adalah Asy’ariyyah dan Maturidiyyah dalam masalah aqidah, madzhab yang empat dalam masalah fiqh dan tasawwuf murni dalam masalah ilmu, akhlaq dan tazkiyah“.
Dengan demikian, mereka telah menyelisihi sunnah dan memecahbelah jama’ah sekaligus mengeluarkan para Imam yang hidup sebelum lahirnya Asy’ari dan Maturidi dari lingkup ahlus sunnah wal jama’ah, seperti Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, Al-Bukhari, Muslim dan lainnya. Mengaitkan para imam dan siapapun yang meniti manhaj mereka dengan aqidah asy’ari, maturidi ataupun sufi, maka ini sesuatu yang sangat mustahil.

Keenam: Muktamar ini bertujuan untuk menyudutkan kelompok ekstrimis (umumnya sebutan ini disematkan kepada mereka yang bermanhaj salafi) dengan ungkapan-ungkapan yang tidak pantas, (misalnya): manhaj mereka menyimpang, bahaya, radikal bahkan mereka (kelompok yang dituduh ekstrimis) telah mencomot identitas ahlus sunnah wal jama’ah kemudian mengklaim sepihak (identitas itu) untuk diri mereka sendiri.
Muktamar ini seolah merupakan titik awal pemulihan identitas ini. Oleh karena itu kita katakan pada mereka: “Penggugat wajib mendatangkan bukti. Buktikan bahwa manhaj sahabat –radhiyallahu ‘anhum- dan siapapun yang meneladani mereka adalah asy’ari atau sufi sehingga gugatan kalian menjadi jelas!”
Inilah teksnya:
“Muktamar ini merupakan titik awal yang penting dan urgen, bertujuan untuk meluruskan penyelewengan yang tajam dan serius terhadap konsep ahlus sunnah wal jama’ah pasca klaim sepihak yang diupayakan kelompok ekstrimis terhadap identitas yang mulia ini sembari menyingkirkan ahlinya.”
Ketujuh: Pesan utama dalam muktamar ini adalah: “Pendirian saluran televisi pada tingkat Federasi Rusia guna menampilkan potret Islam yang benar kepada publik sekaligus memberangus radikalisme dan terorisme”.
Ini adalah pesan politis yang sempurna! Pembesar sufi dunia dari tiap negeri Islam berkumpul untuk mengamanatkan pendirian saluran televisi yang disiarkan pada tingkat Federasi Rusia guna menampilkan potret Islam yang benar kepada seluruh warga Rusia dan Chechnya!!
Adakah pelecehan yang lebih besar bagi peserta muktamar?!

Kedelapan: Diantara petunjuk bahwa muktamar ini diadakan secara selektif dan eksklusif adalah adanya pesan ketiga dalam muktamar yang berbunyi: “Peningkatan kerjasama antar institusi keilmuan bergengsi seperti Universitas Al-Azhar Asy-Syarif, Universitas Al-Karaouine, Universitas Zitouna, Universitas Hadhramout, Pusat Kajian Ilmu Pengetahuan dan Eksplorasi dengan Institusi Keagamaan dan Saintifik Lokal Federasi Rusia”, sembari mengesampingkan Pusat Kajian Ilmu lainnya di penjuru negeri Islam.

Kesembilan: Diantara lelucon yang membuatku menangis adalah adanya pesan kedelapan muktamar yang merekomendasikan “undang-undang hukum pidana kepada pemerintah atas aksi tebar kebencian, provokasi, persengketaan internal dan pelanggaran terhadap tempat-tempat suci”.
Apakah sesuatu yang bisa menebar kebencian dan provokasi lebih banyak dari predikat radikal, sesat dan ungkapan provokatif lainnya yang anda tudingkan kepada ahlus sunnah?!

Kesepuluh: Dengan sengaja, Muktamar Chechnya telah mengabaikan ulama sunni salafi di seluruh dunia. Andaikata muktamar ini bertujuan untuk menghimpun persatuan, niscaya para ulama akan bersatu padu dengan berbagai corak pemikiran mereka, lalu mereka akan mencetuskan konsep persatuan dan mengindahkan perkara yang masih diperselisihkan. Khususnya saat-saat seperti ini, dimana Syiah Rafidhah, Yahudi dan Nasrani mulai menampakkan permusuhan kepada mereka.
Namun, kesibukan mereka lebih besar terfokus untuk menyingkirkan salafiyyun dari bingkai ahlus sunnah wal jama’ah daripada mempersatukan barisan kaum muslimin guna melawan musuh mereka.

Kesebelas: Bila diperhatikan, para peserta yang berpartisipasi dalam muktamar ini terdiri dari tiga golongan:
– Pertama: Golongan yang aqidah dan corak pemikiran mereka sama dengan penyelenggara muktamar, serta memendam rasa benci terhadap salafiyyun dan dakwah tauhid.
Tidak ada yang bisa kita perbuat untuk golongan pertama ini, melainkan hanya berdoa agar mereka diberi hidayah oleh Allah.
– Kedua: Golongan yang berprasangka baik kepada penyelenggara, namun akhirnya mereka kecewa.
– Ketiga: Golongan yang ikut berpartisipasi, namun mereka tidak tahu menahu mengapa mereka hadir dan untuk siapa mereka hadir. Bisa jadi mereka terkejut dengan ucapan kasar yang muncul dalam pernyataan di penghujung muktamar.

Merupakan kewajiban bagi dua golongan terakhir ini untuk berani berlepas diri dari pernyataan yang dimuat dalam kandungan muktamar. Bila tidak demikian, maka ia akan menjadi aib dalam sejarah biografi mereka.
Adapun Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka adalah orang-orang yang meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat beliau. Muktamar dan konspirasi semacam ini tidak akan merugikan dan membahayakan mereka.
Justru ia merupakan pertanda kuat dan pesatnya penyebaran manhaj ini, yang dapat memicu rasa gelisah bagi suatu kaum, sehingga mereka pun berhimpun dari setiap tempat untuk mencetuskan hasil yang memalukan ini.
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas urusannya, namun kebanyakan manusia tiada mengetahui.
Penerjemah: Haris Hermawan.


والله أعلمُ بالـصـواب


Read more

QUNUT NAZILAH untuk muslimin ROHINGYA Myanmar

0 komentar
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Himbauan Asatidzah Ahli Sunnah Salafiyyin Terkait Himbauan Pemerintah Tentang Qunut Nazilah

الحمد لله وحده، والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، نبينا محمد وعلى آله وصحبه، وبعد:

*Mengingat* :

1. Peristiwa pembantaian genosida yang menimpa saudara-saudara kita seiman di Rohingya Myanmar dengan cara-cara yang sangat bertentangan dengan prikemanusiaan.

2. Himbauan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama agar kaum muslimin Indonesia melakukan Qunut Nazilah,
maka :

Asatidzah menghimbau seluruh Salafiyyin di ma’had-ma’had, atau lainnya untuk melakukan Qunut Nazilah pada shalat lima waktu, sebagai perwujudan ukhuwwah Islamiyyah untuk saudara-saudara kita muslimin Rohingya Myanmar dan ketaatan kita terhadap himbauan pemerintah Indonesia.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Rabu, 23 Shafar 1438 H – 23 November 2016 M
ttd
_Asatidzah_ :
  • Muhammad as-Sewed
  • Luqman Baabduh
  • Qomar Suaidi
  • Ruwaifi bin Sulaimi
  • Usamah Mahri
  • Abdush Shomad Bawazir
  • Syafrudin
  • Muhammad Sarbini
  • Abdul Haq
  • Abdullah Nahar
  • Muslim Abu Ishaq
  • Abdurrahman Mubarak
  • Ihsan Abul Abbas
  • Askari Abu Muawiyah
  • Muhammad Afifuddin
  • Ahmad Khodim
  • Abdul Jabbar
  • Ayip Syafrudin
*Beberapa Penjelasan Penting*

1. Qunut Nazilah baru dilakukan oleh kaum muslimin ketika ada perintah atau izin dari pemerintah muslimin. Demikian menurut pendapat yang benar.

2. Qunut nazilah dilakukan setelah ruku’ pada rakaat terakhir. Dilakukan pada semua shalat lima waktu, baik shalat Jahriyyah maupun Sirriyyah. Adapun pada Shalat Jum’at, maka tidak qunut. Karena do’anya bisa dilakukan ketika khutbah

3. Disyariatkan kepada para makmum untuk mengaminkan do’a qunut nazilah. Disyariatkan pula mengangkat tangan bagi imam dan makmum. Tidak perlu mengusap wajah ketika mengakhiri do’a.

4. Dalam shalat sirriyyah, do’a qunut nazilah tetap dibaca jahr (dikeraskan).

5. Dalam doa qunut nazilah tidak ada teks do’a tertentu. Maka hendaknya berdo’a dengan doa yang sesuai dengan kondisi yang ada. Misalnya :

اللهم انصر إخواننا المستضعفين في راهنيا

اللهم عليك بأعدائك أعداء الدين

اللهم عليك بهم فإنهم لا يعجزونك

اللهم أرنا فيهم عجائب قدرتك

اللهم أنزل عليهم بأسك الذي لا يرد عن القوم المجرمين

atau doa lainnya yang sesuai. Lafazh di atas hanya sekedar contoh, tidak harus persis seperti itu.

6. Hendaknya do’anya tidak meluas, hanya berkaitan dengan peristiwa yang ada. Gunakan lafazh-lafazh yang mencakup, jangan berpanjang-panjang, dan jangan sampai memberatkan para makmum.

7. Suatu kesalahan apabila dalam do’a qunut nazilah membaca do’a :
اللهم اهدنا فيمن هديت …. إلخ
karena itu merupakan doa dalam qunut witr.
Tidak dibenarkan pula membaca shalawat Nabi dalam qunut nazilah.

والله أعلمُ بالـصـواب


Read more

Hukum Asuransi BPJS menurut Asy Syaikh Ali Al Hudzaifi hafizhahullahu ta’ala

0 komentar

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Tanya:
Bismillah, mohon penjelasan ustadz. Latar belakang kami adalah bidang kesehatan, sehingga sering bertemu dengan orang yang menanyakan BPJS. Kami pernah menanyakan jawaban ustadz tentang BPJS. Mohon penjelasan ustadz, apa saja BPJS yang menyelisihi syariat? Sehingga kami bisa menjelaskan dengan hikmah kepada orang-orang yang bertanya kepada kami. Barakallahufiikum.


Jawab:
Oleh Al Ustadz Abu Karimah Askari hafizhahullah
Wafiikum barakallahu. Alhamdulillah washalatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa’ala alihi washahbihi wama walahu, amma ba’d.
Sempat kita membahas permasalahan BPJS yang disebutkan sebagian sifat-sifat dari apa yang kami ketahui, dan juga dengan bantuan beberapa asatidzah. Dan kami menyampaikannya kepada Asy Syaikh Ali Al Hudzaifi hafizhahullahu ta’ala yang berkenan datang ke Indonesia mengisi daurah kemarin. Dan beliau menerangkan bahwa program kesehatan yang disebutkan ini, persis seperti apa yang ada di negeri Yaman, yang beliau ketahui. Dan ini tidak terlepas dari adanya unsur ghunm au ghurm. Sama asalnya seperti asuransi-asuransi yang ada.

Terkadang seseorang membayar dengan biaya yang ringan, dia sudah mendapatkan fasilitas yang mampu menalangi jutaan rupiah, padahal dia baru memasukkan satu bulan misalnya dengan jumlah nominal tertentu yang ditetapkan sesuai tingkatannya. Lalu dia mendapatkan pelayanan, bahkan sampai operasi dan seterusnya dengan tanpa membayar. Dan bisa juga seseorang terkadang terus membayar dalam keadaan dia tidak memanfaatkannya.
Sehingga ada unsur maisir, ada unsur perjudian di dalamnya.

وَكُلُّ مَالاَ يَخْلُوا اَللاَّعِبُ فِيْهِ مِنْ غنم أو غرم فهو ميسر
Segala sesuatu yang disana ada kemungkinan untung atau kemungkinan rugi, maka termasuk dalam al maisir yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan BPJS juga termasuk dalam hal ini. Dan saya dulu menyangka bahwa ada sisi yang lain yang mungkin kaitannya dengan masalah ta’awun. Masalah ta’awun ini, artinya saling bantu membantu. Yang kaya membantu yang miskin, namun beliau menerangkan bahwa apa yang disebutkan dari penggambaran BPJS tersebut tidak termasuk ke dalam jenis ta’awun.
Namun ini termasuk ke dalam jenis asuransi tijaroh, yang terkadang seseorang rugi dan terkadang seorang mendapatkan keuntungan. Sehingga kata beliau tidak ada bedanya. Wallahu ta’ala a’lam. Dan saya juga sempat bertanya kepada Asy Syaikh Muhammad Ghalib tentang hal ini, dan beliau kurang lebih memberi jawaban yang sama.
Saya pernah mendengar bahwa ada jawaban dari Asy Syaikh Ubaid Al Jabiri hafizhahullah, namun saya belum mendengarkannya, jadi saya belum mengetahui apa fatwa dari Asy Syaikh Ubaid yang ditanyakan sebagian ikhwan yang bekerja di bidang kesehatan tentang permasalahan BPJS tersebut. Wallahu a’lam.
Download Audio disini
(Sumber:_http://www..thalabilmusyari.web.id/2015/06/hukum-bpjs.html)
والله أعلمُ بالـصـواب


Read more

Penjelasan bab FIQHUL WAQI’

0 komentar
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
 
 Fiqh bererti “Ilmu”. Waqi’ bererti “Kenyataan Atau Kebenaran”. Apabila dua kalimah ini digabungkan ia bererti “Ilmu Kenyataan Atau Ilmu Kebenaran”. Ia dikatakan juga sebagai “Ilmu Peristiwa Dan Hukumnya”. Namun, jika difahami penggunaan kesemua istilah-istilah ini, ia tidak dapat memberi kenyataan, kebenaran atau apa pun ilmu yang hak yang berkenaan dengannya, kecuali jika diambil atau difahami dari kitab Allah dan sunnah RasulNya. Maka fiqhul waqi’ yang sebenar adalah yang diambil, dipelajar dan difahami dari al-Quran dan as-Sunnah. Oleh kerana itu, Syeikh Nasruddin al-Albani rahimahullah berkata:

“Asas awal fiqhul waqi’ (yang dikehendaki oleh syara, Pent.) ialah mengetahui al-Kitab dan as-Sunnah melalui manhaj Salaf as-Soleh. Sama ada secara pemahaman atau cara pelaksanaannya, bukan hanya setakat pengakuan dan angan-angan. Maka tidak boleh dikatakan “memahami fiqhul waqi’ yang sebenar” sesiapa yang tidak mengetahui kitab Rabb-Nya dan sunnah Nabi-Nya”. (Lihat: Soal Jawab Haula Fiqhul Waqi’, hlm. 16-17 Al-Albani)

Secara ringkas, fiqhul waqi’ dapat difahami dengan jelas dari penjelasan Ibnul Qaiyim rahimahullah. Beliau berkata:

وَلاَ يَتَمَكَّنُ الْمُفْتِيُّ وَلاَ الْحَاكِمُ مِنَ الْفتوَى وَالْحُكْم بِالْحَقِّ اِلاَّ بِنَوْعَيْنِ مِنَ الْفَهْمِ .

“Seseorang mufti atau hakim tidak akan mampu berfatwa dan mengeluarkan (memutuskan) hukum kecuali setelah memahami (waqi’/kenyataan. Pent.) dua (jenis) pemahaman:

اَحَدُهُمَا : فَهْمُ الْوَاقَعِ ، وَالْفِقْهُ فِيْهِ ، وَاسْتِنْبَاطُ عِلْمِ حَقِيْقَته مَا وَقَعَ بَالْقَرَائِنِ وَاْلأمَارَاتِ وَالْعَلاَمَاتِ حَتَّى يحِيْطَ بِهِ عِلْمًا.


“Pertama: Memahami (tahu dan mengerti) tentang waqi’ (kejadian/keadaan/kondisi), berilmu tentang ilmu hakikat (peristiwa/kejadian yang sedang berlaku pada masyarakat. Pent.) Kemudian mampu membuat keputusan secara hakikat yang sebenarnya dari kejadian tersebut, disertai dengan pembuktian-pembuktian, tanda-tanda dan ciri-cirinya sehingga dirinya menguasai ilmu tersebut”.


وَالنَّوْعُ الثَّانِيْ : فَهْمُ الْوَاجِبِ فِى الْوَاقِعِ : وَهُوَ فَهْمُ حُكْم اللهِ الَّذِيْ حكمَ بِهِ فَى كِتَابِهِ اَوْ عَلَى لِسَانِ رَسُوْلِهِ فِى هَذَا الْوَاقِعِ.



“Kedua: Faham (menguasai) ilmu yang wajib yang berkaitan dengan kenyataan. Iaitu memahami hukum-hakam Allah di dalam al-Quran dan lisan (Sunnah) Rasul-Nya yang dengannya Allah telah menentukan sesuatu hukum berdasarkan kenyataan kejadian yang berlaku”.

Kemudian melaksanakan kedua perkara ini (yang wajib digabungkan. Pent), salah satunya dengan yang lainnya kerana tidak boleh dipisahkan. Dan sesiapa yang mengarahkan kesungguh-sungguhannya dan mengorbankan ruang waktunya yang panjang untuk yang demikian, maka dia tidak terlepas dari mendapat dua atau satu pahala dari dua perkara tersebut.

Maka orang alim dituntut untuk menguasai ilmu waqi’ atau berusaha untuk memahaminya agar dapat diputuskan peristiwa/kejadian dengan hukum Allah dan Rasul-Nya. (Lihat: اعلام الموقعين 1/187. Ibnu Qaiyim)

Dari kenyataan Ibnu Qaiyim, maka fiqhul waqi’ dapat disimpulkan:

“Mengetahui hukum-ahkam Allah Subhanahu wa-Ta’ala yang terdapat di dalam al-Quran dan Sunnah NabiNya. Kemudian mampu menerapkan keduanya pada kejadian yang berlaku serta permasalahan yang ada pada ketika itu”.

Penjelasan di atas ini berdasarkan firman Allah:


وَاَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا اَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ اَهْوَاءَ هُمْ

“Dan hendaklah engkau berhukum antara mereka dengan apa yang telah diturunkan Allah, dan janganlah turuti hawa nafsu mereka”. (Al-Maidah, 5:49)



اِنَّا اَنْزَلْنَا اِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا اَرَاكَ اللهُ.


“Sesungguhnya telah Kami turunkan aL-Kitab (al-Quran) kepadamu agar kamu berhukum antara mereka dengan apa yang telah diperlihatkan Allah kepadamu”. (An-Nisaa, 105)


Dengan demikian, untuk menetapkan dan melaksanakan fiqhul waqi’ maka asasnya adalah al-Quran dan as-Sunnah kerana keduanya merupakan penerangan, petunjuk dan pelajaran dalam menghadapi waqi’.

Ini bermakna, mengamalkan fiqhul waqi’ sebagaimana yang dituntut dan mengikut manhaj yang dilalui oleh para Salaf as-Soleh, adalah memenuhi perintah Allah Subhana wa-Ta’ala yang berdasarkan firmanNya:


اِنَّا اَنْزَلْنَا اِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَآ اَرَاكَ اللهُ.

“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu al-Kitab dengan membawa kebenaran, agar kamu mengadili (berhukum) antara manusia dengan apa yang telah diwahyukan kepadamu”. (An-Nisaa, 4:105)



وَاَنِ احْكُمْ بِيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ اَهْوَاءَ هُمْ.


“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka”. (Al-Maidah, 5:49)


هَذَا بَيَانٌ للنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ للْمُتَّقِيْنَ.

“(Al-Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. (Ali Imran, 3:138)


Ayat di atas ini menjelaskan bahawa keadaan, kejadian (peristiwa), kondisi dan situasi (waqi’) ditundukkan dan dirujukkan kepada hukum-ahkam al-Quran dan as-Sunnah. Bukan al-Quran dan as-Sunnah diketepikan kerana memenuhi kehendak fiqhul waqi’ (kondisi, situasi, peristiwa dan kenyataan) yang berlandaskan hawa nafsu, yang diimarahkan dan yang dijadikan fiqh keutamaan sehingga kerananya menjadi penyembah pendewaan akal (aklani – (عقلاني sehingga terkeluar dari panduan dan kehendak al-Kitab (al-Quran dan as-Sunnah).

Namun pengertian fiqhul waqi’ yang dimaksudkan oleh golongan haraki hizbi ialah fiqh (ilmu) tentang peristiwa/kejadian atau kenyataan yang berkaitan dengan politik yang sedang berlaku ke atas masyarakat, pergolakan pemerintahan dan hal-hal yang berkaitan dengan negara, tetapi malangnya mereka mengenepikan hakikat waqi’ mengikut panduan syara, kerana mengutamakan akal fikiran dan hawa nafsu.

Orang-orang yang bertaqlidkan kepada orang-orang hizbi yang mendewa-dewakan fiqhul waqi’ yang meninggalkan panduan al-Quran dan as-Sunnah. Maka pengertian fiqhul waqi’ yang mereka maksudkan amat jauh dari pengertian yang dikehendaki oleh syara. Kerana fiqhul waqi’ yang mereka pakai hanya menekankan soal-soal politik (siasah), hakimiyah dan soal-soal muamalah sahaja, sehingga dengan mudah menuduh para ulama Salaf as-Soleh (yang tidak akan menerima dan tidak menyibukkan diri dengan fiqhul waqi’ ciptaan mereka/hizbiyun) dianggap bebal, dungu, jumud (beku, kaku atau kolot) dan bodoh tentang hakikat fiqih waqi.

FIQHUL WAQI’ MENURUT HIZBIYAH (PUAK-PUAK) YANG MENYIMPANG

Fiqhul waqi’ (فقه الواقع) yang dikenal juga dengan sebutan fiqh keutamaan, fiqh aulawiyaat (فقه الاولويات) atau fiqh priority, menurut pandangan orang-orang haraki (harakiyun/orang-orang yang bergerak dalam gerakan kelompok hizbiyah), maka mereka memahami sebagai ilmu tentang kondisi, keadaan dan kejadian semasa yang ditekankan terutamanya dalam soal-soal politik secara yang berlebih-lebihan.

Dijadikan fiqhul waqi’ ini oleh mereka sebagai manhaj dakwah, manhaj tarbiyah dan dianggap lebih penting dari persoalan akidah dan solat. Sehingga ada suara-suara mereka yang berpegang dengan teori fiqhul waqi’ haraki ini mengatakan tanpa segan silu bahawa:

“Golongan ulama Salaf hanya sibuk dengan tauhid, syirik, janggut, isbal, sunnah dan bid’ah! Tetapi tidak tahu tentang fiqhul waqi’. Bagaimana dan bila mereka boleh maju?”

Mereka menyuarakan lagi:

“Jangan sibukkan umat ini dengan riwayat-riwayat hadis, serukan mereka tentang waqi’ yang berdaya maju”.

Golongan hizbi haraki, menghidupkan fahaman fiqhul waqi’ yang dilarikan dari kehendak syara’ agar umat Islam mengeratkan fikiran mereka dengan sumber-sumber media informasi agar hanya mengetahui waqi’ul ummah (masyarakat). Buktinya ialah mereka amat menitik-beratkan persoalan media informasi dan mengajak masyarakat memberi penumpuan kepadanya sedangkan mereka masih bodoh dalam persoalan agama terutamanya persoalan akidah, manhaj dan malahan yang asas.

Mereka lupa bahawa semua media utama di dunia telah dikuasai oleh kaum kuffar yang menggunakan media untuk memerangi dan menghancurkan umat Islam dan akidah mereka.

Golongan hizbi yang melaungkan fiqhul waqi’ sewajarnya menyedari bahawa khabar dari media kuffar dan orang-orang fasik tidak dapat dipastikan kebenarnnya. Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman agar berjaga-jaga dari berita yang didatangkan oleh mereka. Firman Allah:


َا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اِنْ جَآءَ كُمْ فَاسِقٌ بِنَبَاءٍ فَتَبَيَّنُوْا.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bila datang kepada kamu orang fasik dengan membawa berita, maka periksalah”. (Al-Hujuraat, 6)



والله أعلمُ بالـصـواب


Read more