• Manhaj Salaf

    Manhaj Salaf Manhaj Kebenaran

    Risalah Manhaj Salaf, Sebuah metodologi dalam beragama

  • As Sunnah

    Apa dan bagaimana Sunnah?

    Golongan apa dan siapa Ahli Sunnah

  • Al Jamaah

    Al Jamaah

    Penjelasan Ilmiyyah Al jamaah

  • Risalah Bidah

    Bahayanya Bidah

    Memahami Bidah secara Ilmiyyah dan Tepat

  • Faham Sesat

    Faham Menyimpang

    Studi Ilmiyyah Pemikirn faham dan Ideologi Menyimpang Islam

  • Wahabi

    Wahabi

    Artikel Konferehensif tentang Wahabi dan Dakwah Syekh Abdul Wahab

Tampilkan postingan dengan label sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sunnah. Tampilkan semua postingan

Kedudukan SUNNAH Rosul Sebagai Landasan Agama

0 komentar

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Sunnah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم merupakan salah satu landasan dan sumber agama kita, yaitu agama Islam. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyampaikan di dalam Al Qur`an tentang wajibnya kita untuk mengikuti sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم di dalam segala aspek kehidupan.


Allah ta’ala berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا


“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian. Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” [QS An Nisa`: 59]



Syekh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah berkata: “Begitu pula Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan untuk mengembalikan hukum dan kembali kepada diri Rasul صلى الله عليه وسلم ketika terjadi perselisihan dan pertentangan di masa hidup beliau, dan kepada sunnahnya setelah beliau wafat. Allah berfirman:


فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا


“Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” [QS An Nisa`: 59]



Di dalam sebuah hadits hasan yang diriwayatkan oleh Imam Malik bin Anas rahimahullah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:


تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ


“Saya tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, yaitu: kitabullah dan sunnah Nabi-Nya.”



Allah memerintahkan kita untuk mengikuti sunnah beliau dan meninggalkan apa saja yang dilarang oleh beliau. Allah berfirman:


وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ



“Apa saja yang dibawa oleh Rasul kepada kalian maka ikutilah, dan apa saja yang kalian dilarang darinya maka tinggalkanlah. Bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras siksaannya.” [QS Al Hasyr: 7]


Ucapan dan perbuatan Rasulullah صلى الله عليه وسلم bukanlah berdasarkan akal dan hawa nafsu beliau sendiri, namun ia merupakan wahyu yang Allah berikan kepada beliau, sehingga ucapan dan perbuatan beliau juga merupakan landasan agama sebagaimana Al Qur`an juga merupakan landasan agama. Allah ta’ala berfirman:


وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى (1) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى



“Demi bintang ketika terbenam. Sahabat kalian (Muhammad) tidaklah sesat dan tidak pula keliru. Tidaklah apa yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” [QS An Najm: 1-4]



Allah ‘azza wa jalla juga menafikan keimanan dari orang-orang yang tidak mau tunduk dan mengikuti hukum yang dibawa oleh Rasul. Allah berfirman:


فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا


“Maka tidaklah, demi Rabbmu, mereka tidaklah beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [QS An Nisa`: 65]



Syekh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah di dalam kitabnya Tahkimul Qowanin menerangkan makna ayat di atas: “Allah subhanahu wa ta’ala telah menafikan keimanan dari orang yang tidak mau berhukum dengan hukum Nabi صلى الله عليه وسلمdalam perkara-perkara yang mereka perselisihkan dengan penafian yang tegas dengan pengulangan huruf nafi dan penggunaan qasam (sumpah). Allah berkata (yang artinya): “Maka tidaklah, demi Rabbmu, mereka tidaklah beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan.”



Kemudian Allah ta’ala dan Maha Suci belum mengganggap cukup perbuatan mereka yang berhukum kepada Rasul صلى الله عليه وسلم sampai mereka benar-benar menghilangkan rasa berat hati mereka. Allah berfirman (yang artinya): “kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan.”



Sampai kepada perkataan beliau: “Allah ta’ala di sini pun belum menganggap kedua hal tersebut cukup sampai ditambahkan unsur penerimaan/kerelaan. Ini merupakan kesempurnaan ketundukan kepada hukum beliau صلى الله عليه وسلم dari segi bahwa diri mereka tidak memiliki keterkaitan dengan segala sesuatu dan berserah diri kepada hukum yang benar dengan penyerahan diri yang sempurna.” Selesai penukilan kalam Syekh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah.



Allah subhanahu wa ta’ala juga mengancam untuk menimpakan fitnah kepada orang-orang yang menyelisihi sunnah Rasul. Allah berfirman:


فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ


“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih.” [QS An Nur: 63]



Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: “Tahukah engkau apakah fitnah itu? Fitnah itu adalah syirik. Bisa jadi bila dia menolak sebagian sabda beliau akan timbul di dalam dirinya kesyirikan sehingga dia menjadi binasa.”

Demikianlah sekelumit ayat dan hadits -dari sekian banyak ayat dan hadits- yang memerintahkan kita untuk mengikuti sunnah nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم . Semoga Allah ‘azza wa jalla menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mengikuti sunnah Rasul صلى الله عليه وسلم sampai kita diwafatkan oleh Allah. Amin ya Robbal ‘alamin.


والله أعلمُ بالـصـواب


Read more

Definisi Sunnah secara Bahsa dan secara syari /Istilah

0 komentar
 
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
 
Sunnah menurut bahasa artinya cara yang diikuti.
Sedang menurut syar’i ialah semua yang disyari’atkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi umatnya atas izin dari Allah Ta’ala; yang berupa jalan-jalan kebaikan, atau adab-adab dan keutamaan yang beliau anjurkan, demi menyempurnakan umat ini dan membahagiakannya. atau semua perbuatan beliau [filiyah) dan perkataan (qouliyah) rosululloh dan diamnya rosululloh terhadap suatu ucapan perbuatan sahabat adalah ketetapan beliau (taqririyah)

Kalau yang beliau syari’atkan itu berupa perintah untuk melakukan sesuatu dan menekuninya, maka itulah Sunnah waajibah (yang diwajibkan), yang tak boleh ditinggalkan oleh seorang muslim pun. Namun jika bukan seperti itu, berarti itu Sunnah mustahabbah(yang disukai), yang bila dilakukan akan mendapat pahala, namun jika ditinggalkan pelakunya tidak akan disiksa.

Pembaca yang budiman, perlu kita ketahui bahwa sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallammengajarkan sunnah tadi lewat sabdanya; beliau juga mengajarkannya lewat perbuatan dan  persetujuannya. Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan sesuatu secara berulang-ulang hingga jadi kebiasaan, jadilah hal itu sunnah bagi umatnya sampai ada dalil yang menunjukkan bahwa hal tersebut termasuk khususiyyah (kekhususan) beliau, seperti puasa secara bersambung umpamanya (puasa wishal).

Demikian pula ketika beliau mendengar atau melihat sesuatu yang terjadi pada para sahabatnya, kemudian hal itu berulang sekian kali tanpa diingkari oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, jadilah itu sunnah taqririyyah (sunnah karena persetujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).


Akan tetapi jika apa yang beliau lakukan, atau yang beliau lihat dan dengarkan tadi tidak terjadi berulang kali, maka tidak termasuk sunnah. Mengapa? Karena kata sunnah  (سَنَّ – يَسُنُّ – سُنَّةً) berasal dari sesuatu yang berulang kali. Seperti kata (سَنَّ السِّكِّيْنَ) yang artinya mengasah pisau, yaitu menggosoknya berulang kali pada asahan sampai tajam 
Contoh apa yang pernah dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekali saja dan tak diulangi lagi –hingga tidak dianggap sebagai sunnah– ialah ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamak antara shalat dhuhur dan asar, dan antara maghrib dan isya’ tanpa udzur seperti safar, sakit, ataupun hujan (H.R. Muslim dan Tirmidzi)

Karenanya, perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi tak menjadi sunnah yang dipraktekkan oleh kaum muslimin. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam At Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini, beliau berkata:

جَمِيعُ مَا فِي هَذَا الْكِتَابِ مِنْ الْحَدِيثِ فَهُوَ مَعْمُولٌ بِهِ وَبِهِ أَخَذَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مَا خَلَا حَدِيثَيْنِ: حَدِيثَ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ  جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ بِالْمَدِينَةِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ وَحَدِيثَ النَّبِيِّ  أَنَّهُ قَالَ إِذَا شَرِبَ الْخَمْرَ فَاجْلِدُوهُ فَإِنْ عَادَ فِي الرَّابِعَةِ فَاقْتُلُوهُ.

Semua hadits yang ada dalam kitab ini (Sunan Tirmidzi) ialah untuk diamalkan, dan menjadi dalil bagi sebagian ulama; kecuali dua hadits: Hadits Ibnu Abbas yang berbunyi bahwa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamak antara dhuhur, asar, maghrib, dan isya’ di Madinah tanpa alasan takut maupun hujan. Dan hadits Nabi yang mengatakan: “Kalau seseorang ketahuan minum khamer, maka cambuklah. Kalau ia minum lagi keempat kalinya, maka bunuh saja…” (lihat Kitabul ‘Ilal dari Sunan At Tirmidzi).

  Sedangkan contoh dari apa yang pernah beliau diamkan dan beliau setujui sekali saja –hingga tidak bisa dianggap sunnah bagi kaum muslimin,– ialah hadits yang mengatakan tentang nadzar seorang wanita yang bila Allah Ta’ala memulangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari safarnya dalam keadaan selamat, ia akan menabuh rebana di hadapan beliau sebagai luapan rasa bahagia atas keselamatannya

Maka wanita tersebut melangsungkan nadzarnya, dan beliau menyetujuinya kali itu saja. Karenanya, hal ini tidak bisa dianggap sebagai sunnah bagi umatnya.

Adapun contoh dari sunnah fi’liyyah ialah kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selepas shalat berputar ke arah makmum. Hal ini terjadi ratusan kali, karenanya ini merupakan sunnah bagi setiap imam selepas shalat, meskipun beliau tak pernah memerintahkannya. Sedangkan contoh dari sunnah taqririyyahialah ketika beliau mendiamkan apa yang dilakukan para sahabatnya saat mengiring jenazah. Beliau melihat ada yang berjalan di depan jenazah, ada yang disamping kanan, di kiri, dan ada yang di belakang, akan tetapi beliau mendiamkan mereka; dan hal terjadi berulang kali setiap mereka mengiring jenazah. Maka hal ini dianggap sebagai sunnah taqririyyah.

Demikianlah pengertian sunnah, maka hadirkanlah selalu makna ini dalam benak anda… dan jangan lupa untuk menyertakan pula sunnah-sunnah Khulafa’ur Rasyidin sepeninggal beliau.

والله أعلمُ بالـصـواب
 






Read more

Definisi Ittiba’ Rosul dan Kenapa Kita Wajib melakukannya ?

0 komentar
Secara bahasa, ittiba’ berarti pengikutan, atau mengikuti jejak dan langkah seseorang.
Sedangkan secara istilah yang dimaksud dengan ittiba’ yang menjadi dasar agama Islam, berarti pengikutan kepada Rosululloh dalam memahami dan menerapkan Islam.


Atau dengan ungkapan yang lebih gamblang, ittiba’ berarti mengikuti dan meneladani Rosululloh , baik dalam aqidah, ucapan, perbuatan maupun dalam apa-apa yang beliau tinggalkan, serta dengan mengamalkan apa yang beliau kerjakan, baik yang berstatus hukum wajib, sunnah, mubah, makruh ataupun haram, disertai niat dan iradah (keinginan) dalam ittiba’ tersebut.

RUANG LINGKUP ITTIBA’

Hal-hal yang harus diikuti, dicontoh dan diteladani dari Rosululloh adalah mencakup masalah-masalah aqidah, aqwal (perkataan-perkataan), af’al (perbuatan-perbuatan) dan tark (apa yang beliau tinggalkan). Yaitu dengan mengerjakan hal-hal tersebut sesuai yang dicontohkannya, baik yang berstatus hukum wajib, sunnah, mubah, makruh ataupun haram, disertai niat dan iradah (keinginan) untuk ittiba’ kepadanya.

Ittiba’ kepada Rosululloh dalam i’’tiqadnya berarti seseorang berkeyakinan sebagaimana yang diyakini oleh Rosululloh , disertai keyakinan bahwa ini adalah aqidah Rosululloh .
Ittiba’ kepada Rosululloh dalam perkataannya berarti merealisasikan kandungan perkataannya, bukan hanya sekedar menghafal atau mengulang-ulang lafazhnya saja.
Ketika beliau bersabda:

 صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّي 

“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatku.” (HR. Bukhori)

Maka ittiba’ kepada Rosululloh dalam perkataan (sabda)nya tersebut di atas adalah dengan melaksanakan shalat sebagaimana yang telah beliau contohkan, yaitu sesuai dengan sunnahnya.
Ittiba’ kepada Rosululloh dalam amal perbuatannya berari mengerjakan perbuatan tersebut sebagaimana contoh yang telah beliau kerjakan, disertai keyakinan bahwa amal pebuatan tersebut adalah yang telah dikerjakan oleh Rosululloh .


Sedangkan ittiba’ dalam tark adalah meninggalkan hal-hal yang ditinggalkan oleh Rosululloh sebagaimana yang dicontohkannya, disertai keyakinan bahwa amal tersebut adalah amal perbuatan yang ditinggalkan oleh Rosululloh . Seperti, Rosululloh meninggalkan shalat di saat terbit matahari, maka kitapun meninggalkan shalat pada saat tersebut, sesuai dengan arahannya, disertai keyakinan bahwa ini adalah hal yang ditinggalkan oleh Rosululloh .

KEDUDUKAN ITTIBA’

Kedudukan, urgen dan agungnya ittiba’ dalam syariat Islam terlihat sangat nyata dari hal-hal berikut:


1. Ittiba’ adalah syarat diterimanya ibadah.


Suatu amal perbuatan (ibadah) tidak akan diterima kecuali dengan ittiba’ dan selaras dengan apa yang dicontohkan oleh Rosululloh . Karena bila tidak, maka amal perbuatan tersebut hanya akan menjauhkan pelakunya dari Alloh .
Rosululloh bersabda:


 عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ مَنْ عَمِلَ 


“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal perbuatan yang tidak berdasarkan tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

Al-Hasan al-Bashri berkata:
“Tidak sah suatu perkataan kecuali disertai dengan amal, tidak sah pula perkataan dan perbuatan kecuali disertai dengan niat, serta tidaklah sah suatu perkataan, perbuatan dan niat kecuali bila berdasarkan sunnah.”

Ibnu Rojab berkata:
“Amal perbuatan yang tidak ditujukan untuk mengharap wajah Alloh semata tidak akan mendapatkan pahala bagi pelakunya, maka demikian pula halnya dengan amal perbuatan yang tidak ada perintah Alloh dan Rosul-Nya, maka pasti tertolak dari pelakunya....”

2. Ittiba’ adalah salah satu dari dua pilar Islam, yaitu ikhlash hanya bagi Alloh semata dan ittiba’ kepada Rosululloh .


Alloh berfirman:
“...Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Robbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholeh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Robbnya.” [QS. al-Kahfi (18): 110]

Ibnu Taimiyah berkata:
“Ada dua pilar yang sangat agung bagi kita semua; Pertama: kita tidak diperkenankan beribadah kecuali hanya kepada Alloh . Kedua, kita tidak diperkenankan beribadah kecuali hanya berdasarkan apa yang telah disyariatkan-Nya (melalui Rosul-Nya), tidak beribadah dengan suatu bid’’ah. Dua pilar ini tiada lain merupakan realisasi dari dua kalimat syahadat.”

3. Ittiba’ adalah sarana dan sebab untuk masuk surga Rosululloh bersabda:

 كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى 


“Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan (menolak). Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rosululloh, siapakah orang yang enggan tersebut?’ Maka beliau menjawab: Barangsiapa yang mentaatiku, maka akan masuk surga, sedangkan yang bermaksiat kepadaku, maka dialah orang yang enggan tersebut!” (HR. Bukhori)

Az-Zuhri berkata:
 اْلاِعْتِصَامُ بِالسُّنَّةِ نَجَاةٌ 

“Berpegang teguh kepada sunnah adalah jalan keselamatan.”

4. Ittiba’ adalah dalil (bukti) mahabbah (kecintaan) kepada Alloh .


Alloh berfirman:
“Katakanlah: ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah Aku, niscaya Alloh mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Ali 'Imron (3): 31]

5. Ittiba’ adalah sarana paling nyata yang dapat menumbuhkan kecintaan kepada Rosululloh .
Rosululloh bersabda:


(( لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ))

“Tidak beriman (dengan sempurna) salah seorang di antara kalian sehingga menjadikan diriku lebih dicintainya daripada kedua orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia lainnya.” (HR. Bukhori) 

Rosululloh pernah bersabda kepada ‘Umar bin al-Khoththob ketika dia menyatakan bahwa beliau adalah orang yang paling dicintainya melebihi siapapun juga kecuali dari dirinya sendiri, maka beliau menjawab:

(( لاَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ ))

“Tidak demikian halnya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya aku lebih dicintai olehmu walaupun dari dirimu sendiri!” (HR. Bukhori)

Maka tidak ada satu saranapun yang dapat membuktikan kecintaan kita kepada Rosululloh secara hakiki, kecuali dengan meniti jalan ittiba’ dan bersungguh-sungguh dalam menggapai kesempurnaannya.

6. Ittiba’ adalah sarana untuk merealisasikan ketaatan kepada Rosululloh dan upaya untuk menghindarkan diri dari ancaman akibat melalaikan ketaatan tersebut.

Alloh berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul....” [QS. an-Nisa’ (4): 59]

Sebaliknya, Alloh mengancam dengan keras kepada orang-orang yang menyelisihi Rosul-Nya :

“Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” [QS. an-Nisa’ (4): 115]

Maka tidak ada satu jalanpun bagi seorang hamba untuk dapat merealisasikan ketaatan kepada Rosululloh dan untuk dapat menghindarkan diri dari ancaman akibat melalaikan ketaatan tersebut kecuali dengan ittiba’ dan meneladani Rosululloh .

7. Ittiba’ adalah salah satu sifat yang melekat dengan sangat kuat pada diri kaum mukminin

Alloh berfirman:

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka diajak kepada Alloh dan Rosul-Nya guna menghukum di antara mereka adalah ‘Kami mendengar, dan kami patuh’. Dan mereka itu adalah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Alloh dan Rosul-Nya dan takut kepada Alloh dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” [QS. an-Nur (24): 51-52]

Sebaliknya, Alloh justru meniadakan keimanan dari orang yang menolak untuk mentaati Rosululloh dan tidak ridho kepada hukumnya.

Alloh berfirman:

“Maka demi Robbmu, mereka tidaklah beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [QS. an-Nisa’ (4): 65]

8. Ittiba’ merupakan salah satu bukti ketaqwaan

Alloh berfirman:
“Demikianlah (perintah Alloh). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Alloh, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [QS. al-Hajj (22): 32]

Yang dimaksud dengan “syi’ar- syi’ar Alloh” adalah perintah-perintah dan rambu-rambu agama-Nya yang jelas. Yang paling nyata dan paling tinggi di antaranya adalah mentaati Rosululloh dan ittiba’ kepada syariatnya.


'Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang' (surat Ali 'Imran:31).

"laukana khairan Lasabaquunaa ilaihi" artinya kalaulah seandainya perbuatan/amal itu baik, tentulah para sahabat mendahului kita mengerjakannya).

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yg mukmin & tdk (pula) bagi perempuan yg mukminah, apabila Allah & RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.'' (Al-Ahzab: 36)


Dan janganlah berbuat bidah menambah dan mendahului syariat

Allah وتعالى سبحانه  berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمُُ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Hujuraat: 1)

“Apa yang diberikan rasul kepadamu maka terimalah,dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah”  ( Qs. Al hasyr/59 :7)

“Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku” (HR. Bukhari no.5063)


“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan... dia banyak menyebut Allah”. (Surat Al'Ahzab:21)

wallohu a'lam






Read more

Karakteristik Golongan Yang Selamat ( Firqoh Najiah )

0 komentar
Karakteristik firqah najiyah yang paling menonjol adalah berpegang teguh dengan apa yang dibawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam aqidah, ibadah, akhlak dan mu’amalah. Di dalam empat perkara inilah kamu akan mengetahu firqah najiyah.

Dalam masalah aqidah, kamu mendapati firqah najiyah selalu berperang teguh dengan apa yang ditunjukkan Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu tauhid yang murni dalam uluhiyah Allah, rububiyah-Nya dan asma’ wa...sifat-Nya

Dalam masalah ibadah, kamu dapati firqah najiyah ini begitu unik di dalam berpegang teguh yang sempurna dan dalam merealisasi apa yang datang dari Nabi dalam masalah ibadah, berupa jenis, sifat, ukuran, waktu, tempat dan sebab-sebabnya. Kamu tidak akan mendapati mereka berbuat bid’ah dalam agama Allah ini, namun justru mereka sangat tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam memasukkan bentuk ibadah yang tidak diridhai-Nya.

Dalam masalah akhlak kamu dapati mereka juga istimewa dari yang lainnya ; dalam hal kebagusan akhlak, seperti cinta akan kebaikan untuk orang-orang muslim, lapang dada, wajah berseri, bagus dan mulia ucapannya, berani dan akhlak mulia lainnya.

Dalam masalah mu’amalah, kamu dapati mereka bermu’amalah kepada manusia dengan jujur dan terus terang. Mereka itulah yang ditunjuk oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya.

“Artinya : Dua orang yang jual beli (penjual dan pembeli) mempunyai hak memilih barang selama mereka belum berpisah, yang jika keduanya jujur dan terus terang maka jual beli keduanya diberkahi” [1]

Bila karakteristik-karakteristik ini kurang pada diri seseorang, hal itu tidak menjadikan ia keluar dari firqah najiyah, akan tetapi segala sesuatu ada derajadnya sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. Namun bila terjadi dalam tauhid, bisa jadi mengeluarkan dia dari firqah najiyah seperti rusaknya keikhlasan. Demikian juga bid’ah, bisa jadi dia berbuat bid’ah yang mengeluarkan dia dari firqah najiyah.


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
[Disalin dari kitab Majmu Fatawa Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Terbitan Pustaka Arafah]
__________
Foote Note
[1]. Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Kitabul Buyu, Bab Idza Bayyana Albai’ani Walam Yaktuma wa Nasahaa, no. 2079. Dan Muslim dalam Kitabul Buyu’, Bab As-Sidqu Fil Bai’i wal Bayan, no. 1532
[2]. HR Bukhari : 946 dan Muslim :1770





Read more

Kedudukan Tinggi Para Ulama Ahlul Hadits

0 komentar
Sesungguhnya tidak ada keselamatan dalam Syariat Islam ini kecuali dengan mengikuti Kitab dan Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah. Tapi kita tidak mungkin mendengar sunnah dan pemahaman mereka kecuali dengan melalui sanad (mata rantai para rawi). Dan sanad termasuk dalam Dien (Agama).
Maka lihatlah dari siapa kalian mengambil Dien kalian. Sedangkan yang paling mengerti tentang sanad adalah Ashabul hadits. Maka dalam hal ini kita akan lihat betapa tingginya kedudukan mereka.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :

'Allah membuat cerah (muka) seorang yang mendengarkan (hadits) dari kami, kemudian menyampaikannya.' (Hadits ini Shahih Riwayat Ahmad dan Abu Dawud)





Read more

Dalil Ancaman Bagi Penyelisih Sunnah

0 komentar
Allah berfirman: 'Maka hendaklah berhati-hati orang yang menyelisihi perintah Rasul-Nya untuk tertimpa fitnah atau tertimpa adzab yang pedih.' (surat An-Nur:63).

Maka menjadi jelaslah dengan ini, bahwa orang yang memperolok-olok Rasul dengan menyatakannya sebagai orang yang sesat adalah lebih berhak dan lebih pantas untuk disifati dengan sifat ini dan bahwa binatang ternak lebih baik dari orang tersebut. _Lihat Tafsir Karimir Rahman,hal: 584

Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu Qs : Anissa 115.[348] dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. 









Read more

Dalil Sedikitnya Jumlah Ahli Sunnah

0 komentar
Golongan yang selamat  tidak boleh bersedih dan berkecil hati. Walaupun jumlahnya hanya sedikit akan tetapi tetap menang bila melawan orang ahli bid’ah dan kelompok yang menyimpang.

Allah
 وتعالى سبحانه  berrfirman:

Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.(QS.al-Baqoroh: 249)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم  bersabda:

'Bahkan jumlahmu pada hari itu banyak, akan tetapi kalian bagaikan buih seperti kotoran buih yang di atas air._ HR.Abu Dawud: hal:2 no:514. Dishohihkan oleh al-ALbani,dalam kitab Silsilah Shohihah: 2/no:647

Ibnul Qoyyim rahimahullah didalam kitabnya Madarijus Salikin juz-3 hal:199-200, Menjelaskan tentang Hadits:


Berbahagialah orang yang asing itu (mereka adalah) orang-orang baik yang berada di tengah orang-orang yang jahat. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada orang yang mengikuti mereka.



Ibnul Qoyyim berkata bahwa:
Ia adalah orang -Asing dalam agamanya-dikarenakan rusaknya agama mereka
Asing pada berpegangnya dia terhadap sunnah-dikarenakan berpegangnya manusia terhadap bid'ah-Asing pada keyakinannya -dikarenakan telah rusak keyakinan mereka
·        Asing pada shalatnya dikarenakan jelek shalat mereka
·        Asing pada jalannya dikarenakan sesat dan rusaknya jalan mereka
·        Asing pada nisbahnya dikarenakan rusaknya nisbah mereka
·        Asing dalam pergaulannya bersama mereka-dikarenakan bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka.

Al-Imam Al Auza'i rahimahullah mengatakan tentang sabda Rasulullah:

 'Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing.
 Adapun Islam itu tidak akan pergi akan tetapi Ahlus Sunnah-lah yang akan pergi sehingga tidak tersisa di sebuah negeri melainkan satu orang.'Dengan makna inilah didapati ucapan Salaf yang memuji Sunnah dan mensifatinya dengan asing dan mensifati pengikutnya dengan kata sedikit.

_ Lihat Kitab Ahlul Hadits Hum At Thoifah Al Manshurah hal 103-104.








Read more

Beberapa Perkataan Ulama Salafush Shalih Tentang Sunnah

0 komentar
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Abdullah bin Ad Dailamy rahimahullah, berkata:
'Sesungguhnya sebab pertama hilangnya agama ini adalah dengan meninggalkan As'Sunnah. Agama ini akan hilang sunnah demi sunnah, sebagaimana lepasnya tali seutas demi seutas.'
'Dan Tidaklah dilakukan suatu bid'ah melainkan akan bertambah cepat berkembangnya, dan tidaklah ditinggalkan As'Sunnah kecuali bertambah cepat hilangnya'.
Lihat dalam: kitab:Al Lalikai jilid-1 hal:93 no.127-128, Kitab sunan Ad Darimy jilid-1 hal:58 no.97,
kitab Al Bida' hal:73.

Al Imam Al Auza'i rahimahullah menyebutkan dari Hassan bin Athiyyah,
ia berkata :'Tidaklah suatu kaum berbuat satu bid'ah dalam Dien mereka, melainkan Allah cabut dari mereka satu Sunnah yang semisalnya dan tidak akan kembali kepada mereka sampai hari kiamat.
Lihat dalam kitab: sunan Ad Darimy jilid-1 hal:58 no.98.

Yunus bin Zaid dari Az Zuhri rahimahullah ia berkata:
Ulama kami yang terdahulu selalu mengingatkan bahwa berpegang teguh dengan As Sunnah itu adalah keselamatan dan ilmu akan tercabut dengan segera. maka tegaknya ilmu adalah kekokohan agama dan dunia. sedangkan dengan hilangnya ilmu maka hilang pula semuanya.
Lihat dalam kitab: sunan Ad Darimy jilid-1 hal:58 no.16.

Jilakalau Sunnah sudah mulai ditinggalkan Maka Hilanglah Agama Dari Dunia ini...!!







Read more